Bisnis

Penertiban Tambang Ilegal Dorong Produksi dan Laba TINS Melonjak

Avatar of Sulsel Times
0
×

Penertiban Tambang Ilegal Dorong Produksi dan Laba TINS Melonjak

Sebarkan artikel ini
Penertiban Tambang Ilegal Dorong Produksi dan Laba TINS Melonjak
Penertiban Tambang Ilegal Dorong Produksi dan Laba TINS Melonjak
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, 10/08/2026 — Penertiban tambang timah ilegal menjadi katalis kinerja PT Timah Tbk (TINS) dengan produksi bijih melonjak 75 persen dan laba bersih tumbuh 805 persen pada semester pertama 2026.

Ringkasnya…
  • Produksi bijih TINS naik 75% jadi 12.232 ton Sn semester I-2026
  • Laba bersih melonjak 805% jadi Rp2,71 triliun melebihi target tahunan
  • Penertiban tambang ilegal jadi katalis utama pemulihan pasokan
  • Harga timah LME rata-rata US$50.319 per ton semester I-2026
  • Analis Hans Kwee rekomendasikan Buy target Rp4.700-5.000 per saham
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Kenaikan signifikan itu didorong normalisasi pasokan bijih setelah pemerintah mengamankan cadangan strategis nasional. Perintah Presiden Prabowo Subianto menutup ribuan tambang ilegal di Bangka Belitung membuka ruang bagi TINS untuk meningkatkan perolehan bijih resmi.

Scroll Kebawah
Advertisement

Menurut Reuters, pemerintah menargetkan penutupan sekitar 1.000 tambang ilegal. Presiden Prabowo memperkirakan aktivitas shadow mining mencapai 80 persen total produksi di wilayah tersebut. Indonesian Tin Exporters Association mencatat potensi ekspor ilegal hingga 12.000 ton per tahun yang selama ini menekan volume penjualan produsen resmi.

Produksi dan Penjualan Melonjak

Produksi bijih timah TINS pada semester I-2026 mencapai 12.232 ton Sn. Angka itu naik sekitar 75 persen dari 6.997 ton Sn pada semester I-2025 yang turun 32 persen tahunan.

Produksi logam timah meningkat menjadi 10.865 metrik ton. Penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, melonjak sekitar 85 persen dari 5.933 metrik ton periode yang sama tahun lalu.

Kinerja Keuangan dan Valuasi

Pendapatan TINS mencapai Rp10,42 triliun pada semester I-2026, naik 147 persen dari Rp4,22 triliun. Laba bersih melonjak sekitar 805 persen menjadi Rp2,71 triliun dari Rp300 miliar.

Realisasi laba tersebut telah mencapai sekitar 169 persen dari target laba bersih TINS sepanjang 2026 sebesar Rp1,61 triliun. Kinerja ditopang harga timah tinggi. Harga rata-rata di London Metal Exchange (LME) pada semester I-2026 mencapai US$50.319 per metrik ton, naik 56,7 persen dari US$32.116 per metrik ton.

Perbaikan fundamental tercermin pada kapitalisasi pasar. Pada Agustus 2025 kapitalisasi pasar berada di kisaran Rp7,6 triliun. Pada Agustus 2026 kapitalisasi pasar TINS telah mencapai sekitar Rp28,75 triliun.

Rekomendasi Analisis

Pengamat Pasar Modal Hans Kwee merekomendasikan Buy untuk TINS dengan target harga Rp4.700 hingga Rp5.000 per saham. “Prospek TINS saat ini ditopang oleh pemulihan produksi, dan potensi normalisasi pasokan melalui penertiban tambang ilegal,” kata dia, Senin, 10/08/2026.

Menurutnya valuasi TINS masih menarik. Price to earnings ratio (PER) sekitar 4,49 kali dianggap relatif murah dibandingkan pertumbuhan penjualan dan laba. Net profit margin mencapai sekitar 26 persen dan return on equity (ROE) sekitar 51 persen.

Dari sisi industri, prospek harga timah dunia dinilai positif seiring potensi kekurangan pasokan akibat meningkatnya kebutuhan industri semikonduktor dan kecerdasan buatan.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *