Sulseltimes.com, Jakarta, Selasa, 06/10/2026 — Rupiah menguat tipis 0,03% ke Rp17.890 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa.
- Rupiah ditutup di Rp17.890/US$ atau menguat 0,03% dari penutupan sebelumnya Rp17.895
- Penguatan terpangkas setelah sempat melemah ke Rp17.915 di pertengahan perdagangan
- Indeks dolar AS (DXY) melemah 0,12% ke posisi 102,049
- Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Oktober mereda setelah data tenaga kerja AS melemah
- Pasar menantikan rilis cadangan devisa Indonesia periode September oleh BI pada Rabu
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan di level Rp17.875/US$. Penguatan tidak bertahan lama, mata uang Garuda sempat turun ke Rp17.915/US$, sebelum kembali menguat dan menutup perdagangan di Rp17.890/US$.
Penguatan Terpangkas di Pertengahan Perdagangan
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah 0,12% ke posisi 102,049. DXY sempat mencapai posisi tertinggi 102,285 pada perdagangan hari ini.
Tekan dari Dolar AS dan Harga Minyak
Pelemahan dolar AS terjadi di tengah berkurangnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Bank Sentral AS pada pertemuan Oktober. Ekspektasi mereda setelah laporan tenaga kerja AS periode September menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang mulai melemah.
Sentimen lain datang dari pasar minyak. Harga minyak mentah dunia melemah seiring membaiknya pasokan dari kawasan Timur Tengah dan pelepasan cadangan darurat oleh negara-negara G7. Harga minyak Brent turun sekitar 0,8% ke US$99,49 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 1,1% ke US$88,43 per barel.
Bagi rupiah, harga minyak yang lebih rendah dapat mengurangi nilai impor energi dan kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor. Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis cadangan devisa Indonesia periode September oleh Bank Indonesia (BI) pada Rabu besok.














