Sulseltimes.com — Laporan terbaru dari Anthropic mengungkapkan bahwa adopsi kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja masih jauh dari batas kemampuannya, meskipun ada beberapa profesi yang mulai terpapar secara signifikan.
- Anthropic merilis laporan baru
- Adopsi AI masih jauh dari potensi
- Profesi berpendidikan tinggi paling terpapar
- Pekerjaan fisik dan interaksi manusia tinggi aman
- Belum ada lonjakan pengangguran massal
Laporan dari Anthropic
Peneliti dari Anthropic merilis laporan berjudul “Labor Market Impacts of AI: A New Measure and Early Evidence”.
Mereka tidak hanya mengukur kemampuan AI di atas kertas, tetapi membandingkannya dengan data riil penggunaan chatbot Claude oleh para profesional.
Hasilnya menunjukkan bahwa AI belum menggantikan pekerja secara massal.
Profesi yang Paling Terpapar
Laporan ini memetakan profesi yang mulai “dijajah” AI.
Mereka yang berkutat dengan tugas di depan layar yang bisa diotomatisasi sepenuhnya masuk dalam kategori risiko tinggi.
Data menunjukkan bahwa pekerja yang sangat terpapar AI didominasi oleh lulusan sarjana (37,1 persen) dan pascasarjana (17,4 persen).
Rata-rata gaji mereka juga lebih tinggi, yaitu 32,69 dollar AS per jam, dibandingkan pekerja yang tidak terpapar AI yang hanya 22,23 dollar AS per jam.
Pekerjaan yang Aman dari AI
Sebaliknya, pekerja yang menggunakan keterampilan fisik, membutuhkan interaksi manusia tingkat tinggi, atau harus terjun langsung ke lapangan relatif aman.
Anthropic mencatat sekitar 30 persen pekerja di Amerika Serikat memiliki tingkat paparan AI nol persen.
Artinya, tugas harian mereka sulit atau mustahil digantikan oleh mesin setidaknya untuk saat ini.
Belum Ada PHK Massal
Meski daftar profesi rentan terlihat mengkhawatirkan, peneliti tidak menemukan lonjakan angka pengangguran yang masif, bahkan di kalangan profesi paling rentan sekalipun.
Ancaman PHK massal akibat AI tampaknya belum menjadi realitas dalam waktu dekat.
Kesimpulan dari Laporan
Laporan ini memberikan gambaran bahwa AI memang berdampak pada dunia kerja, tetapi belum secara drastis menggeser tenaga kerja manusia.
Pekerja dengan keterampilan fisik dan interaksi sosial tinggi masih memiliki posisi aman.











