Sulseltimes.com, Makassar, Sabtu, Mei 25, 2026 — Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar, Novita Maulidya Jalal, mengungkap faktor utama yang membuat anak dan remaja di Makassar rentan terlibat geng motor, tawuran, balap liar, dan tindak kriminal lainnya.
- Dosen Psikologi UNM Novita Maulidya Jalal
- Remaja dan anak-anak di Makassar
- Pengaruh lingkungan dan media sosial
- Perlu pendekatan emosional dari orang dewasa
- Kriminalitas remaja sebagai pekerjaan rumah bersama
Lingkungan dan Media Sosial Jadi Pemicu Utama
Novita menjelaskan bahwa anak-anak di bawah 12 tahun membentuk standar moral dari apa yang mereka lihat di lingkungan sekitar. Keluarga, masyarakat, dan media sosial menjadi sumber utama pembentukan nilai baik dan buruk.
“Dalam pandangan mereka, baik-buruk itu dari apa yang dia lihat dari lingkungan, orangtua, masyarakat dekat tempat ia tinggal, juga lingkungan media sosial. Nah seringnya terpapar ini membuatnya merasa itu standar moral,” kata Novita, Sabtu, Mei 23, 2026.
Sementara pada remaja usia 12 hingga 21 tahun, secara kognitif mereka sudah memahami konsep baik dan buruk. Namun karena fase perkembangan psikologis yang masih labil, mereka lebih mudah mengikuti standar yang dibentuk sendiri dibanding norma masyarakat.
Novita mencontohkan balap liar dan tawuran yang kerap dianggap remaja sebagai bentuk eksplorasi diri dan pencarian jati diri.
“Bagi remaja itu mengeksplorasi mengenai dunianya dan dirinya. Makanya butuh dipahamkan. Mereka butuh dijelaskan dan dicontohkan, tidak hanya menyalahkan yang buruk tetapi juga fokus memberikan yang baik seperti apa,” jelasnya.
Pendekatan Emosional sebagai Kunci Pencegahan
Menurut Novita, orang dewasa harus menjadi tempat aman bagi anak untuk bercerita dan menyampaikan keluh kesah. Pendekatan emosional dinilai lebih efektif daripada sekadar melarang atau menghukum.
“Kita beri kedekatan emosional ketika mereka merasa dihargai, diwadahi rasa ingin tahunya tentang dunia dan dirinya maka terjadi interaksi dua arah. Mereka akan lebih percaya terhadap orang dewasa,” katanya.
Fenomena meningkatnya kriminalitas yang melibatkan anak dan remaja menjadi pekerjaan rumah bersama. Orangtua, lingkungan, sistem pendidikan, dan aparat keamanan harus bersinergi untuk memberikan bimbingan serta teladan yang baik.











