Sulseltimes.com, Makassar, Kamis, 09/07/2026 — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, mengungkap keistimewaan Syekh Yusuf Al-Makassariy sebagai satu-satunya tokoh asal Sulawesi Selatan yang diakui sebagai pahlawan oleh Indonesia dan Afrika Selatan.
- Syekh Yusuf diakui sebagai pahlawan oleh Indonesia dan Afrika Selatan
- Tokoh asal Gowa, Sulsel, memiliki pengaruh lintas negara
- Rektor UINAM Prof. Hamdan Juhannis
- Dialog Budaya Haul 400 Tahun Syekh Yusuf di UIN Alauddin Makassar, Kamis 9 Juli 2026
- Warisan sejarah untuk generasi muda dan penguatan peradaban
Keistimewaan Syekh Yusuf Menurut Rektor UINAM
Prof. Hamdan Juhannis menyebut Syekh Yusuf sebagai figur yang unik dan langka. Ia adalah ulama, sufi, pejuang antikolonial, sekaligus diplomat peradaban.
“Syekh Yusuf adalah sosok yang the one and the only. Beliau satu-satunya tokoh yang mampu memadukan peran sebagai ulama, sufi, pejuang antikolonial, sekaligus diplomat peradaban,” kata Hamdan di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Kamis, 09/07/2026.
Pengakuan kepahlawanan dari dua negara menjadi bukti besarnya pengaruh Syekh Yusuf. Menurut Hamdan, menjadi pahlawan di satu negara saja sudah sulit, apalagi diakui oleh dua negara.
“Beliau satu-satunya sosok yang diakui kepahlawanannya oleh dua negara, Indonesia dan Afrika Selatan. Menjadi pahlawan di satu negara saja sudah sangat sulit, apalagi diakui oleh dua negara,” ujarnya.
Warisan Lintas Batas dan Pesan Universal
Hamdan menyoroti jejak perjuangan Syekh Yusuf yang melampaui batas geografis dan etnis. Pahlawan nasional asal Gowa itu membawa pesan universal tentang keadilan dan kemanusiaan.
“Syekh Yusuf adalah ulama pejuang yang menjadi simbol perjuangan lintas ras. Beliau tidak berjuang hanya untuk satu komunitas, satu etnis, atau satu bangsa, tetapi membawa nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal,” ungkap Hamdan.
Keberadaan makam simbolik di lebih dari satu negara menunjukkan penghormatan terhadap Syekh Yusuf hidup di berbagai wilayah. Warisan sejarah dan perjuangannya dikenang di tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari dakwah dan perjuangannya.
“Syekh Yusuf menjadi satu-satunya tokoh asal Sulawesi Selatan yang memiliki jejak penghormatan di dua negara. Itu menunjukkan bahwa pengaruh beliau melampaui batas wilayah dan zaman,” jelas Hamdan.
Harapan bagi Generasi Muda
Menurut Hamdan, UIN Alauddin memiliki keterikatan historis dengan Syekh Yusuf. Kampus itu merasa bertanggung jawab untuk terus menghidupkan diskusi mengenai pemikiran, perjuangan, dan keteladanan tokoh tersebut.
“Mengapa Syekh Yusuf harus terus diperingati? Karena beliau adalah figur yang memiliki keunikan dan keteladanan yang tidak dimiliki banyak tokoh lain. Nilai-nilai itu harus terus diwariskan kepada generasi muda,” tutur Hamdan.
Ia berharap dialog budaya dalam rangka Haul 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassariy tidak berhenti sebagai seremonial. Kegiatan itu harus menjadi ruang memperkuat pemahaman masyarakat terhadap warisan intelektual, spiritual, dan kebangsaan yang ditinggalkan tokoh besar asal Gowa.
“Bagi saya, Syekh Yusuf layak disebut sebagai tokoh, pejuang, sekaligus bapak peradaban manusia karena perjuangannya melampaui sekat agama, bangsa, dan ras,” pungkas Hamdan.









