Bisnis

IEA Wanti-Wanti Harga Minyak Makin Volatil Akibat Gangguan Pasokan Timur Tengah

Avatar of Sulsel Times
5
×

IEA Wanti-Wanti Harga Minyak Makin Volatil Akibat Gangguan Pasokan Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
iea wanti wanti harga minyak makin volatil akibat gangguan pasokan timur tengah
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Jumat, 15/05/2026 — Lembaga Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa harga minyak dunia berpotensi semakin bergejolak akibat gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah yang dipicu konflik Iran.

Harga minyak mentah Brent dan WTI kembali menguat, dengan Brent naik 0,34% ke US$105,99 per barel dan WTI naik 0,43% ke US$101,45 per barel.

Pasokan global diperkirakan kehilangan lebih dari 14 juta barel per hari sejak perang Iran pecah, dan IEA menyebut total kehilangan produksi telah melampaui satu miliar barel.

Kenaikan Harga dan Peringatan IEA

Harga minyak dunia kembali menunjukkan tren kenaikan pada perdagangan Kamis hingga Jumat, di tengah kekhawatiran pasar terhadap pasokan global yang terus menyusut.

Minyak mentah acuan global Brent kontrak Juli naik 0,34% ke level US$105,99 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat kontrak Juni naik 0,43% menjadi US$101,45 per barel.

Kenaikan ini terjadi setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari (bpd), dari sebelumnya 1,4 juta bpd.

“Dengan lebih dari 14 juta barel per hari pasokan yang terpangkas, total kehilangan produksi dari negara-negara Teluk kini telah melampaui satu miliar barel,” demikian pernyataan IEA dalam laporan terbarunya.

Lembaga itu menyoroti dampak perang Iran yang telah berlangsung lebih dari sepuluh pekan, menyebabkan gangguan pasokan dari Selat Hormuz menguras cadangan minyak global dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Proyeksi OPEC, Analisis Pasar, dan Pernyataan Tokoh Global

OPEC mencatat produksi minyak kelompoknya turun 1,7 juta bpd pada April dan telah merosot lebih dari 30% atau sekitar 9,7 juta bpd sejak perang Iran pecah pada akhir Februari 2026.

Laporan terbaru OPEC juga diperkirakan menjadi yang terakhir memasukkan data dari Uni Emirat Arab, yang baru-baru ini resmi keluar dari kartel.

Analis ING dalam catatannya menyebut arah harga minyak sangat bergantung pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

“Masa bertahannya harga bahan bakar di level tinggi masih menjadi topik diskusi yang sangat intens dan sangat terkait dengan perkembangan geopolitik terkait penutupan Selat Hormuz, serta potensi kerusakan infrastruktur minyak dan gas di Timur Tengah akibat konflik lanjutan,” tulis analis ING.

Sementara itu, mantan Menteri Perdagangan Amerika Serikat, Carlos Gutierrez, menekankan bahwa China sebagai pembeli terbesar minyak yang melewati Selat Hormuz memiliki kepentingan besar agar konflik segera berakhir.

“Presiden Xi ingin perang ini segera berakhir sama besarnya seperti Presiden Trump menginginkannya,” ujar Gutierrez dalam wawancara dengan CNBC “Squawk Box Asia”.

IEA juga memperingatkan bahwa gejolak harga diperkirakan akan semakin tinggi seiring mendekatnya periode permintaan energi musim panas.

Pelaku pasar kini mencermati pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping yang dapat mempengaruhi arah pasar energi global.

Dengan ketidakpastian geopolitik yang tinggi, harga minyak diprediksi tetap rentan terhadap lonjakan liar dalam waktu dekat.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *