Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, 25/10/2026 — Rupiah terus tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat dan bergerak di kisaran atas Rp18.000 per dolar.
- Rupiah ditutup menguat 0,03% ke posisi Rp18.040/US$ pada penutupan Jumat
- Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,19% ke posisi 101,802
- Firman Mochtar, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI, menyebut rendemen surat utang AS di atas 5 persen sebagai pemicu penguatan dolar
- Penguatan dolar menurunkan minat investor pada pasar emerging termasuk Indonesia
- MSCI mempertimbangkan pasar saham Indonesia menjadi Standalone market, menambahkan tekanan domestik
Mata uang Garuda melanjutkan pelemahannya meskipun mencatat penguatan kecil pada penutupan Jumat. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,03% ke posisi Rp18.040/US$.
Nilai tukar tersebut masih berada di kisaran atas Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Sebelumnya, mata uang Indonesia melemah 0,25% pada penutupan Kamis.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat 0,19% ke posisi 101,802.
Pemicu Penguatan Dolar AS
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia, Firman Mochtar, menjelaskan penguatan dolar AS terjadi seiring dengan kenaikan rendemen surat utang AS di atas 5 persen.
“Dampaknya adalah DXY, indeks mata uang dolar terhadap negara maju sudah menguat. Kemarin sudah tercatat 101,” kata Firman saat taklimat media di Gedung BI, Jakarta, Minggu, 25/10/2026.
“Kalau menguat tentunya mata uang negara berkembang akan menjadi lemah, termasuk Indonesia,” lanjutnya.
Firman juga melihat pengumuman MSCI yang akan mendiskusikan pasar saham Indonesia untuk menjadi Standalone market sebagai faktor tekanan tambahan.
Menurutnya, aliran modal keluar, tekanan global, dan tekanan domestik secara bersama-sama memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pasar valutanya tetap berada di kisaran atas Rp18.000 per dolar, dengan tekanan dari sisi global dan domestik masih terasa.















