EkonomiBisnis

Biskuit 92 Tahun Beralih ke Sawit, Apa Kabar Konsumsi di Era Prabowo?

Avatar of Sulsel Times
0
×

Biskuit 92 Tahun Beralih ke Sawit, Apa Kabar Konsumsi di Era Prabowo?

Sebarkan artikel ini
Bangunan pabrik Lee Biscuits di Pontian, Johor, Malaysia
Pabrik Lee Biscuits di Pontian, Johor, Malaysia, yang dijadwalkan tutup pada akhir Oktober 2026. Dok. Istimewa
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, Oktober 25, 2026 — Lee Biscuits, produsen biskuit berusia 92 tahun di Malaysia, dijadwalkan menutup pabriknya di Pontian, Johor, pada akhir Oktober 2026 dengan sekitar 300 pekerja terdampak, sementara grup usahanya mengalihkan fokus ke karet dan sawit.

Ringkasnya…
  • Lee Biscuits menutup pabrik di Malaysia pada akhir Oktober 2026
  • Sekitar 300 pekerja terdampak penghentian usaha
  • Grup memusatkan bisnis pada aset inti termasuk karet dan sawit
  • Prabowo pernah mendorong penambahan penanaman sawit
  • Konsumsi rumah tangga RI masih tumbuh meski melambat dari kuartal sebelumnya
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Manajemen pabrik mengonfirmasi rencana penutupan tersebut dalam keterangan yang diberitakan pada Oktober 2026.

Scroll Kebawah
Advertisement

Penghentian usaha itu merupakan bagian dari penataan bisnis grup, bukan penutupan pabrik di Indonesia.

Peralihan fokus menuju sawit memberi konteks untuk menelaah dua hal di Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yakni penguatan komoditas strategis dan kondisi konsumsi masyarakat.

Namun, informasi yang tersedia belum menunjukkan hubungan sebab-akibat antara keputusan perusahaan Malaysia itu dan kebijakan pemerintahan Prabowo.

Lee Biscuits didirikan oleh pengusaha sekaligus filantropis Lee Kong Chian pada 1934.

Produknya dikenal melalui biskuit Marie, biskuit kraker, iced gem, serta biskuit isi lemon.

Menjelang penutupan, sekitar 300 pekerja masih bertugas hingga akhir bulan untuk membersihkan fasilitas dan menyelesaikan pekerjaan penutupan operasional.

Manajemen juga menyatakan stok di pabrik telah habis setelah beberapa kegiatan penjualan penghabisan persediaan selama dua pekan sebelumnya.

Pembeli yang masih mencari produknya diarahkan memeriksa persediaan tersisa di toko pengecer.

Fokus grup pada perkebunan tidak berarti bangunan pabrik biskuit tersebut sudah dipastikan akan diubah menjadi kebun sawit.

Rencana pemanfaatan akhir aset pabrik belum dijelaskan secara lengkap dalam informasi yang tersedia.

Prabowo Pernah Mendorong Tambahan Tanam Sawit

Di Indonesia, Prabowo secara terbuka menempatkan sawit sebagai komoditas strategis dalam arahannya pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional di Jakarta, Senin, Desember 30, 2024.

Forum tersebut membahas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025–2029.

“Dan saya kira ke depan kita juga harus tambah tanam kelapa sawit,” kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, Senin, Desember 30, 2024.

Dalam pidato yang sama, Prabowo menyebut kebutuhan negara lain terhadap pasokan sawit Indonesia dan meminta kepala daerah serta aparat menjaga perkebunan sebagai aset negara.

“Ternyata kelapa sawit jadi bahan strategis rupanya,” kata Prabowo.

Ia mengaitkan arti penting sawit dengan kebutuhan industri pengguna produk turunannya, termasuk cokelat, deterjen, dan kosmetik.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Prabowo menjabat presiden, sehingga konteksnya adalah arahan pembangunan pemerintah, bukan janji kampanye menjelang pemilihan presiden.

Dalam pembacaan atas dua peristiwa ini, titik temunya ada pada perhatian terhadap bisnis sawit.

Keputusan Lee Biscuits merupakan langkah korporasi di Malaysia, sedangkan pernyataan Prabowo menjelaskan prioritas komoditas dalam pembangunan Indonesia.

Benarkah Ada Krisis Budaya Konsumsi di Era Prabowo?

Data konsumsi Indonesia memperlihatkan gambaran yang lebih berlapis daripada kesimpulan bahwa masyarakat berhenti berbelanja.

Badan Pusat Statistik mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen secara tahunan pada kuartal II 2026.

Laju itu melambat dibanding pertumbuhan tahunan pada kuartal I 2026 yang sebesar 5,52 persen.

Namun, angka kuartal II 2026 masih lebih tinggi daripada pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 4,97 persen.

“Komponen yang memberikan kontribusi terbesar ialah konsumsi rumah tangga sebesar 53,32% dan tumbuh sebesar 5,06%,” kata M. Edy Mahmud, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik, Rabu, Agustus 5, 2026.

Dengan porsi lebih dari separuh produk domestik bruto, konsumsi rumah tangga tetap menjadi komponen terbesar dalam struktur ekonomi Indonesia pada periode tersebut.

Perlambatan dibanding kuartal sebelumnya menunjukkan laju pertumbuhan belanja mengecil, bukan berarti jumlah konsumsi secara keseluruhan mengalami kontraksi.

Sinyal yang perlu dibaca berikutnya datang dari Survei Konsumen Bank Indonesia pada September 2026.

Indeks Keyakinan Konsumen tercatat 118,1, sedikit turun dari 118,5 pada Agustus 2026, tetapi masih berada di atas batas optimistis 100.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun dari 109,4 menjadi 107,5, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen naik dari 127,6 menjadi 128,7.

Pergerakan tersebut memperlihatkan penilaian atas kondisi saat ini melemah, sementara harapan terhadap kondisi mendatang justru membaik.

Dalam analisis atas data itu, tekanan pada kondisi ekonomi saat ini belum cukup untuk menetapkan adanya krisis budaya konsumsi secara nasional.

Istilah budaya konsumsi menyangkut kebiasaan dan pilihan masyarakat, sedangkan angka pertumbuhan konsumsi dan indeks keyakinan mengukur aspek ekonomi yang berbeda.

Berakhirnya produksi satu merek juga belum membuktikan konsumen meninggalkan seluruh jenis produknya, sebab pembelian dapat berpindah ke merek lain.

Hingga informasi yang tersedia pada Minggu, Oktober 25, 2026, belum ada data penjualan Lee Biscuits di Indonesia atau penjelasan perusahaan yang menghubungkan penutupannya dengan perubahan kebiasaan konsumsi masyarakat Indonesia.

Status yang dapat dipastikan adalah penutupan fasilitas Lee Biscuits di Malaysia dan penataan fokus bisnis grupnya, sementara konsumsi rumah tangga Indonesia masih tumbuh di tengah perlambatan laju dibanding kuartal sebelumnya.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *