Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, 25/10/2026 — Dr. Tirta Mandira Hudhi menanggapi viralnya aksi peserta yang menerobos barikade saat terkena Cut Off Point (COP) pada kategori Half Marathon Jakarta Running Festival 2026.
- Peserta menerobos barikade saat COP di JRF 2026
- Dr. Tirta menegaskan pentingnya pahami aturan COP
- JRF sudah edukasi perbedaan COP dan COT sejak tiga tahun lalu
- Aturan batas waktu juga diterapkan di ajang maraton internasional
- Dr. Tirta sarankan peserta yang tidak siap ikut event lain
Dalam video di akun Instagramnya, dr. Tirta yang juga dikenal sebagai runner dan Aktifis kesehatan menjelaskan bahwa sistem perhitungan batas waktu atau COP yang diterapkan pihak penyelenggara merujuk pada gun time resmi yang dihitung sejak bendera start dikibarkan, bukan dari waktu masuknya peserta berdasarkan pembagian koral.
“JRF sudah membuat edukasi dari tiga tahun lalu, apa bedanya COP dan COT. COP itu dihitung dari gun time, bukan dari koral kalian,” ujar dr. Tirta dalam kutipan langsung yang dibagikan.
Aturan Keselamatan Bukan Hal Baru
Dr. Tirta mengungkapkan bahwa aturan standar keselamatan dan batas waktu ketat ini bukan hal baru di kancah ajang lari dunia. Berbagai ajang maraton internasional juga menerapkan sistem sweep hingga penutupan gate yang jauh lebih ketat demi keselamatan seluruh peserta.
“Di luar negeri, di Tokyo juga seperti itu, bahkan lebih kejam. Disapu nganggo bis, di gate langsung tutup,” tegasnya.
Menanggapi keluhan peserta yang menuntut ganti rugi, dr. Tirta menyarankan agar para pelari mematuhi ketentuan acara secara dewasa. Jika belum siap beradaptasi dengan regulasi perlombaan besar, peserta disarankan memilih ajang yang lebih santai.
“Kalau kamu masih finish HM-nya di atas tiga jam setengah, atau kamu kesapu COP, PR-mu cuma satu, bukan protes ke panitia, tapi latihan lagi!” pungkasnya.
Viralnya aksi terobos barikade ini sebelumnya dipicu oleh sebuah video di akun Threads @gilbertamsal yang memperlihatkan momen ratusan pelari berusaha menerobos barikade petugas. Para peserta diduga terkena COP 1 sehingga tidak dapat melanjutkan perlombaan hingga garis finish.
Panitia kemudian turun tangan untuk menutup barikade, sehingga peserta yang tersisa tidak diperbolehkan melanjutkan lari.







