Bisnis

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.875 per Dolar AS

Avatar of Sulsel Times
0
×

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.875 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.875 per Dolar AS
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.875 per Dolar AS
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Kamis, 13/08/2026 — Rupiah dibuka melemah 0,06 persen ke posisi Rp17.875 per dolar AS pada perdagangan pagi ini melanjutkan tren pelemahan dua hari berturut-turut.

Ringkasnya…
  • Rupiah dibuka melemah 0,06% ke Rp17.875/US$
  • Penutupan kemarin Rp17.865/US$, turun 0,20%
  • Data Refinitiv, indeks dolar DXY 99,931
  • Perdagangan pagi Kamis, 13/08/2026, Jakarta
  • Tekanan arus keluar asing pasca evaluasi MSCI dan kenaikan imbal hasil obligasi AS
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Merujuk data Refinitiv, pelemahan pagi ini melanjutkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.865 per dolar AS. Rupiah telah membukukan penurunan selama dua hari perdagangan beruntun.

Scroll Kebawah
Advertisement

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, terpantau melemah 0,08 persen ke posisi 99,931 pada sesi Asia. DXY berbalik turun setelah ditutup menguat 0,19 persen pada perdagangan sebelumnya.

Faktor Eksternal dan Domestik Tekan Nilai Tukar

Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi respons pasar terhadap data inflasi konsumen AS periode Juli serta potensi arus keluar asing dari pasar saham domestik pasca evaluasi indeks MSCI. Inflasi AS secara tahunan melandai menjadi 3,4 persen pada Juli dari 3,5 persen pada Juni. Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi juga turun menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 2,6 persen.

Data tersebut pada awalnya membawa angin segar bagi mata uang negara berkembang. Dolar AS sempat melemah karena perlambatan inflasi mengurangi peluang The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September hanya sebesar 40 persen, turun dari 44 persen sebelum data inflasi diumumkan.

Namun, tekanan terhadap dolar tidak berlangsung lama. Greenback berbalik menguat karena pelaku pasar menilai penurunan inflasi belum cukup untuk mengubah sikap The Fed yang masih berhati-hati terhadap tekanan harga. Dolar juga memperoleh dukungan dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Lelang surat utang tenor 10 tahun mencatat permintaan kuat dengan imbal hasil 4,683 persen, tertinggi sejak 2007.

Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran turut menjaga permintaan terhadap dolar sebagai aset aman. Perundingan pelaksanaan kesepakatan sementara Juni dilaporkan belum menunjukkan kemajuan, sementara ketidakpastian mengenai Selat Hormuz masih berlanjut.

Risiko Arus Keluar Asing Pasca Evaluasi MSCI

Dari sisi domestik, rupiah menghadapi risiko tambahan setelah evaluasi MSCI Agustus mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari daftar indeks. Perubahan komposisi tersebut berpotensi mendorong investor asing yang mengikuti indeks MSCI untuk menyesuaikan portofolionya.

Jika penyesuaian itu disertai penjualan saham dan penukaran dana ke dolar AS, arus keluar asing berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah ke depan.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *