MarketEkonomi

Rupiah Ditutup Menguat 0,2%, Dolar AS Turun ke Rp17.830

Avatar of Sulsel Times
0
×

Rupiah Ditutup Menguat 0,2%, Dolar AS Turun ke Rp17.830

Sebarkan artikel ini
Rupiah Ditutup Menguat 0,2%, Dolar AS Turun ke Rp17.830
Rupiah Ditutup Menguat 0,2%, Dolar AS Turun ke Rp17.830
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Selasa, Juni 2, 2026 — Nilai tukar rupiah berhasil menguat 0,2% ke level Rp17.830 per dolar AS pada awal perdagangan bulan ini, mematahkan tren pelemahan dalam lima hari beruntun.

Ringkasnya…
  • Rupiah menguat 0,2% ke Rp17.830/US$
  • Mematahkan tren pelemahan lima hari beruntun
  • Bank Indonesia mengetatkan aturan pembelian dolar AS tanpa dokumen underlying
  • Indeks dolar AS (DXY) melemah 0,12% ke 99,081
  • Surplus neraca perdagangan April 2026 susut menjadi US$90 juta
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Penguatan Rupiah di Tengah Volatilitas Pasar

Sepanjang hari perdagangan, rupiah bergerak fluktuatif.

Mata uang Garuda sempat dibuka menguat 0,08% di Rp17.850/US$, lalu tertekan hingga Rp17.892/US$, sebelum akhirnya berbalik menguat hingga penutupan.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia melemah 0,12% ke posisi 99,081.

Kebijakan Bank Indonesia dan Dampaknya

Bank Indonesia terus mengkalibrasi instrumen kebijakan di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 7 Tahun 2026, batas transaksi pembelian dolar AS tanpa dokumen underlying diturunkan dari US$100.000 menjadi US$50.000 per April 2026.

Batas tersebut kembali dipersempit menjadi US$25.000 per pelaku per bulan yang mulai berlaku awal Juni 2026.

Di sisi derivatif, batas transaksi forward jual dan swap tanpa underlying ditingkatkan menjadi US$10 juta per transaksi.

Pelaku pasar juga didorong memanfaatkan skema Local Currency Transaction (LCT). Hingga April 2026, volume transaksi LCT mencapai US$22,61 miliar.

Surplus Perdagangan Menyusut

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya US$90 juta, turun jauh dari posisi Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar.

Penyusutan surplus terjadi di tengah lonjakan impor sebesar 22,49% menjadi US$25,21 miliar.

Sementara itu, ekspor masih lebih besar dengan nilai US$25,30 miliar, meski pertumbuhannya lebih rendah, yakni 21,98%.

Sentimen Eksternal Turut Mendukung

Pelemahan dolar AS di pasar global membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kondisi ini membuat tekanan terhadap rupiah sedikit mereda pada akhir perdagangan hari ini.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *