Sulseltimes.com, Moskow, Kamis, Mei 28, 2026 — Rusia mengesahkan undang-undang baru yang mengizinkan bank sentral dan lembaga keuangan lainnya untuk menembak jatuh drone guna melindungi fasilitas mereka dari serangan udara.
- Rusia sahkan UU pertahanan drone
- Bank sentral hingga bank komersial boleh bersenjata
- Karyawan bisa ganggu sinyal atau hancurkan drone
- Setiap lembaga bayar sendiri sistem pertahanan
- Perang Rusia-Ukraina masih berlangsung sejak 2022
Isi Undang-Undang Baru
Parlemen Rusia mengesahkan beleid yang memungkinkan staf bank sentral untuk dipersenjatai dan mengoperasikan sistem penangkis serangan drone tanpa melibatkan pasukan khusus.
Bank terbesar Rusia, Sberbank, juga termasuk dalam lembaga yang diizinkan mengawasi operasi pertahanan drone mereka sendiri.
Asosiasi Pengumpulan Uang Tunai Rusia dan Layanan Pos Khusus yang menangani surat-menyurat rahasia negara juga masuk dalam daftar tersebut.
Karyawan akan diberi wewenang untuk mencegah pengoperasian kendaraan udara tak berawak, kapal, peralatan bawah air dan permukaan, kendaraan tak berawak, serta sistem otomatis lainnya.
Hak ini dapat digunakan untuk menangkis serangan terhadap fasilitas yang dilindungi atau ancaman terhadap karyawan dan orang lain di lokasi.
Serangan dapat digagalkan dengan mengganggu atau mengubah sinyal kendali jarak jauh drone, mengganggu panel kontrol, serta merusak atau menghancurkan drone.
Cara dan Pembiayaan Pertahanan
Ketua Komite Pasar Keuangan Duma Negara Anatoly Aksakov mengatakan sistem pertahanan anti-drone akan ditempatkan di dekat fasilitas utama.
“Pertama, pengacakan akan digunakan untuk mempersulit UAV menargetkan dan menyerang target yang relevan. Selain itu, kami juga akan menggunakan cara untuk menembak jatuh drone ini,” kata Aksakov, Kamis, Mei 28, 2026.
Setiap lembaga akan membayar sendiri sistem pertahanan drone tersebut.
“Jika bank sentral, maka bank sentral yang membayar. Jika Sberbank, maka Sberbank yang membayar,” tambahnya.
Latar Belakang Konflik
Militer Ukraina semakin menggunakan serangan drone jarak jauh sehingga memperluas kebutuhan Rusia untuk mempertahankan wilayah udaranya yang luas.
Baik Rusia maupun Ukraina membantah secara sengaja menargetkan infrastruktur sipil dalam perang yang dimulai pada Februari 2022.
Namun, serangan terhadap infrastruktur dan fasilitas penting di kedua negara masih terjadi, termasuk melalui perang siber.
Dengan fokus Amerika Serikat pada operasi militernya melawan Iran, upaya membawa Moskow dan Kyiv ke meja perundingan damai tampak terhenti.







