Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 11/07/2026 — Matahari Department Store, salah satu jaringan ritel terbesar di Indonesia, resmi diakuisisi oleh keluarga Riady melalui Lippo Group pada tahun 1996. Peristiwa ini terjadi di tengah kejayaan perusahaan yang saat itu dipimpin oleh pendirinya, Hari Darmawan.
- Matahari diakuisisi Lippo Group pada 1996
- Pinjaman Rp1,6 triliun dari James Riady
- Hari Darmawan sebagai pendiri
- Jakarta
- Persaingan dengan WalMart menjadi latar belakang
Awal Mula Bisnis Matahari
Hari Darmawan memulai usaha kecil berupa toko pakaian bernama Micky Mouse di kawasan Pasar Baru pada tahun 1960. Toko itu menjual pakaian impor dan koleksi bermerek MM Fashion yang diproduksi istrinya.
Bisnis Micky Mouse berjalan lancar selama lima tahun pertama. Namun, Hari iri dengan toko tetangga bernama De Zion yang selalu ramai dikunjungi orang kaya.
Ia berulang kali mencoba meniru kesuksesan De Zion, tetapi tidak berhasil. Pada 1968, ia mendengar pemilik De Zion ingin menjual tokonya. Hari segera membelinya.
Dengan pinjaman US$ 200 juta dari Citibank, ia mengakuisisi dua toko De Zion di Jakarta dan Bogor. Toko itu kemudian diganti nama menjadi Matahari.
“De Zion dalam bahasa Belanda artinya Matahari,” kata Hari Darmawan, Sabtu, 11/07/2026.
Strategi Besar dan Pinjaman dari James Riady
Untuk mengembangkan Matahari, Hari meniru konsep department store Jepang, Sogo. Ia ingin Matahari menjual berbagai barang selengkap mungkin dengan harga murah.
Strategi itu berhasil. Matahari tumbuh pesat sepanjang 1970–1980. Gerainya tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga perhiasan, tas, sepatu, kosmetik, elektronik, mainan, alat tulis, dan buku.
Pada 1989, PT Matahari Department Store Tbk resmi melantai di bursa saham dengan kode emiten LPPF.
Hari punya ambisi besar membuka 1.000 gerai. Ambisi itu terdengar oleh James Riady, bankir muda putra konglomerat Mochtar Riady. James menawarkan pinjaman Rp1,6 triliun dengan bunga rendah. Hari menerimanya.
Tidak lama setelah pinjaman cair, James Riady mendatangkan merek ritel asal Amerika Serikat, WalMart, ke Indonesia. WalMart ditempatkan persis di depan gerai Matahari, seperti pola persaingan Indomaret dan Alfamart.
WalMart menjadi pesaing langsung Matahari. Meski demikian, Matahari tetap unggul dan WalMart kalah saing.
Akuisisi yang Tak Terduga
Pada tahun 1996, Hari Darmawan menerima tawaran pembelian Matahari dari James Riady. Saat itu Matahari sedang dalam masa jaya dengan omzet Rp2 triliun. Penjualan ini mengejutkan banyak pihak karena tidak ada tanda-tanda kebangkrutan.
Sejak akuisisi itu, Matahari resmi menjadi milik Lippo Group. Nama Hari Darmawan perlahan meredup dari panggung bisnis ritel Indonesia.
Warisan Bisnis yang Berganti Tangan
Hingga kini, Matahari Department Store mengoperasikan 155 gerai di 81 kota di seluruh Indonesia. Perusahaan tetap menjadi salah satu pemain utama di industri ritel fesyen nasional.
Kisah akuisisi ini menjadi pelajaran tentang dinamika bisnis dan persaingan yang bisa mengubah kepemilikan perusahaan dalam sekejap.











