Bisnis

Kisah Raja Ritel RI Tumbang: Keluarga Riady Ambil Alih Matahari pada 1996

Avatar of Sulsel Times
0
×

Kisah Raja Ritel RI Tumbang: Keluarga Riady Ambil Alih Matahari pada 1996

Sebarkan artikel ini
Kisah Raja Ritel RI Tumbang: Keluarga Riady Ambil Alih Matahari pada 1996
Kisah Raja Ritel RI Tumbang: Keluarga Riady Ambil Alih Matahari pada 1996. Doc ist.
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, Mei 18, 2026 — PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) yang dikenal sebagai salah satu jaringan ritel terbesar di Indonesia memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya dikuasai oleh keluarga Riady melalui Lippo Group.

Kisah akuisisi ini bermula dari ambisi pendiri Matahari, Hari Darmawan, yang ingin mengembangkan bisnis hingga 1.000 gerai, namun justru berujung pada pengambilalihan oleh James Riady pada 1996. Saat itu, Matahari memiliki omset Rp2 triliun dengan 155 gerai di 81 kota.

Ringkasnya…
  • Pendiri Matahari adalah Hari Darmawan
  • James Riady mengakuisisi Matahari pada 1996
  • Nilai omset Matahari saat akuisisi Rp2 triliun
  • Pinjaman Rp1,6 triliun dari Lippo Group mendahului akuisisi
  • Motif diduga terkait persaingan dengan WalMart yang dibawa James Riady
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Dari Toko Kecil Hingga Raja Ritel

Cikal bakal Matahari bermula dari toko pakaian Micky Mouse yang dibuka Hari Darmawan di Pasar Baru, Jakarta, pada 1960.

Toko tersebut menjual pakaian impor dan produk merek sendiri, MM Fashion, yang diproduksi istrinya.

Setelah lima tahun berjalan, Hari merasa iri dengan kesuksesan toko De Zion yang selalu ramai dikunjungi orang kaya. Ia pun berusaha meniru strategi De Zion, namun belum berhasil.

Pada 1968, Hari mendengar kabar bahwa pemilik De Zion ingin menjual tokonya. Dengan pinjaman US$200 juta dari Citibank, ia mengakuisisi dua toko De Zion di Jakarta dan Bogor, lalu mengganti namanya menjadi “Matahari”.

“De Zion dalam bahasa Belanda artinya kan Matahari,” kata Hari Darmawan, pendiri Matahari Department Store, Senin, Mei 18, 2026.

Untuk mengembangkan toko barunya, Hari mencontek strategi ritel Jepang, Sogo Department Store, yang menjual pakaian lengkap dengan harga terjangkau. Strategi ini membuat Matahari ramai pengunjung dan berkembang pesat sepanjang 1970–1980.

Gerainya tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga perhiasan, tas, sepatu, kosmetik, peralatan elektronik, mainan, alat tulis, dan buku. Pada 1989, Matahari resmi melantai di bursa saham dengan kode emiten LPPF.

Akuisisi oleh Lippo Group dan Akhir Kejayaan Hari Darmawan

Ambisi Hari Darmawan untuk menjadikan Matahari sebagai pusat ritel utama dengan target 1.000 gerai menarik perhatian James Riady, anak konglomerat Mochtar Riady pendiri Lippo Group. James menawarkan pinjaman Rp1,6 triliun dengan bunga rendah, yang diterima Hari.

Namun, tak lama setelah pinjaman cair, James Riady mendatangkan merek ritel ternama asal Amerika Serikat, WalMart, yang didirikan tepat di depan gerai Matahari.

Persaingan sengit terjadi, namun WalMart akhirnya kalah saing dan Matahari tetap menjadi raja.

Meski demikian, pada 1996, James Riady tiba-tiba menawarkan pembelian Matahari. Hari Darmawan menerima tawaran tersebut, sehingga Matahari resmi menjadi bagian dari Lippo Group.

Penjualan ini menimbulkan spekulasi karena Matahari sedang dalam masa jaya. Sejak itu, nama Hari Darmawan perlahan meredup.

Akuisisi ini menjadi titik balik kepemilikan Matahari yang hingga kini masih berada di bawah kendali Lippo Group.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *