Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, Juni 1, 2026 — IHSG tertekan di level 5.900 dan Rupiah melemah ke Rp 17.800 per Dolar AS, didorong sentimen perang Timur Tengah dan kekhawatiran defisit APBN di atas 3%, menurut Managing Director & Chief Investment Officer Pinnacle Investment Andri Yauhari Njauw.
- IHSG terendah 5.900
- Rupiah Rp 17.800 per Dolar AS
- Sentimen perang Timur Tengah dan defisit APBN
- Pernyataan Andri Yauhari Njauw, Pinnacle Investment
- Arah investasi pengelola dana jumbo di tengah volatilitas
Pengaruh Sentimen Eksternal dan Internal
Tekanan terhadap IHSG tidak lepas dari sentimen eksternal terkait perang Timur Tengah yang mengerek harga minyak.
Pelemahan nilai tukar Rupiah turut memperberat kondisi pasar keuangan dalam negeri.
Dari sisi internal, kebijakan fiskal pemerintah menjadi sorotan dengan ancaman defisit APBN di atas tiga persen.
“Pasar keuangan RI masih sangat volatile dengan IHSG yang masih dihantui pelemahan dengan level terendah di 5.900 serta nilai tukar Rupiah yang terus melemah hingga menyentuh level Rp 17.800 per Dolar AS,” kata Andri Yauhari Njauw, Senin, Juni 1, 2026.
Arah Investasi Pengelola Dana Jumbo
Tekanan ganda dari internal dan eksternal membuat pasar RI sangat volatile.
Andri Yauhari Njauw membahas arah kebijakan The Fed dan dampaknya terhadap pasar emerging.
Aliran dana asing ke negara berkembang seperti Indonesia juga menjadi perhatian utama.
Investor pengelola dana jumbo disarankan mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan fiskal dalam negeri sebelum mengambil keputusan investasi.
Analisis lebih lanjut dapat disimak dalam program Power Lunch CNBC Indonesia bersama Managing Director & CIO Pinnacle Investment.















