Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, 08/06/2026 — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi kurang dari dua bulan setelah rupiah pertama kali menyentuh Rp17.000 per dolar AS pada awal April 2026.
- Rupiah tembus Rp18.000 per USD
- Pelemahan 1.000 poin dalam dua bulan
- Analis: faktor eksternal dan internal
- Jakarta, 5 Juni 2026
- Dampak terhadap impor dan inflasi
Penyebab Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah yang signifikan ini didorong oleh kombinasi faktor global dan domestik. Tekanan utama berasal dari penguatan dolar AS di tengah kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat. Di sisi lain, kondisi fundamental ekonomi Indonesia, termasuk defisit transaksi berjalan dan sentimen pasar, turut mempercepat depresiasi.
Faktor-faktor tersebut diulas secara mendalam dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, Jumat, 05/06/2026. Analis Crysania Suhartanto memaparkan bahwa pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter global.
Para pelaku pasar juga mencermati data ekonomi dalam negeri, seperti inflasi dan cadangan devisa, yang menjadi indikator ketahanan rupiah ke depan.
Dampak dan Prospek ke Depan
Pelemahan rupiah hingga Rp18.000 per dolar AS berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama bahan baku dan barang konsumsi. Hal ini dapat mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Pemerintah dan Bank Indonesia diprediksi akan mengambil langkah stabilisasi, termasuk intervensi pasar dan penyesuaian suku bunga acuan. Namun, efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada perkembangan ekonomi global.
Para analis menyarankan pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai (hedging) guna mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar. Masyarakat diimbau mencermati tren ini dalam perencanaan keuangan sehari-hari.















