Bisnis

Perang Bunga Deposito Ancam Bank Menengah, Likuiditas Perbankan Belum Merata

Avatar of Sulsel Times
0
×

Perang Bunga Deposito Ancam Bank Menengah, Likuiditas Perbankan Belum Merata

Sebarkan artikel ini
Perang Bunga Deposito Ancam Bank Menengah, Likuiditas Perbankan Belum Merata
Perang Bunga Deposito Ancam Bank Menengah, Likuiditas Perbankan Belum Merata
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Selasa, 21/07/2026 — Bank menengah (KBMI II dan III) menghadapi tekanan likuiditas ketat yang memicu risiko perang bunga deposito, sementara data menunjukkan dana pihak ketiga terkonsentrasi besar pada bank besar (KBMI IV).

Ringkasnya…
  • Risiko perang bunga deposito mengancam bank menengah
  • KBMI IV kuasai dana Rp5.550,8 triliun per Mei 2026
  • M Rizal Taufikurahman INDEF dan Josua Pardede Bank Permata
  • Jakarta, Juli 2026
  • Margin keuntungan bank menengah tertekan dan ruang turun bunga kredit sempit
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Likuiditas Bank Menengah Masih Ketat

Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman mengatakan kondisi likuiditas di perbankan menengah atau KBMI II dan III masih ketat.

Scroll Kebawah
Advertisement

Ketatnya likuiditas tersebut berpotensi memicu perang suku bunga deposito untuk menghimpun dana masyarakat.

“Keluhan mengenai ketatnya likuiditas terutama dari bank kelompok menengah memang mengindikasikan meningkatnya kompetisi dalam menghimpun dana masyarakat,” kata Rizal, Selasa, 21/07/2026.

Bank dengan basis dana murah (CASA) yang terbatas akan dirugikan jika perang bunga terjadi.

Akibatnya ruang untuk menurunkan bunga kredit bagi bank KBMI II dan III menjadi sangat terbatas.

“Jika perang bunga terjadi cost of fund akan meningkat margin bunga bersih (NIM) tertekan dan ruang penurunan bunga kredit menjadi semakin sempit,” terang Rizal.

Menurutnya tantangan pemerintah dan otoritas moneter bukan hanya menjaga stabilitas moneter tetapi juga memastikan likuiditas perbankan memadai agar fungsi intermediasi tidak terganggu.

Distribusi Dana Belum Merata

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede melihat permasalahan saat ini bukan kekurangan likuiditas secara keseluruhan melainkan distribusi yang tidak merata antar bank.

“Distribusi likuiditas belum merata antar bank di mana bank besar (KBMI IV) cenderung lebih kuat karena basis dana murah dan ekosistem transaksi lebih luas sementara bank menengah (KBMI II-III) lebih sensitif terhadap perpindahan dana deposan besar,” kata Josua, Selasa, 21/07/2026.

Ia menambahkan indikasi perang bunga memang mulai muncul namun masih bersifat selektif dan belum membesar ke seluruh industri.

“Indikasi perang bunga memang mulai muncul tetapi masih selektif belum menjadi perang bunga besar di seluruh industri,” lanjut Josua.

Dominasi Dana Bank Besar

Data simpanan per KBMI menunjukkan struktur dana sangat terkonsentrasi di bank besar.

Posisi Mei 2026 mencatat KBMI IV mencapai Rp5.550,8 triliun jauh di atas KBMI I KBMI II dan KBMI III.

Dalam kondisi suku bunga acuan naik SRBI menarik dan SBN ritel menawarkan kupon tinggi deposan besar makin sensitif terhadap imbal hasil.

Hal itu memaksa bank menengah menawarkan bunga lebih kompetitif untuk mempertahankan dananya.

Tekanan Margin dan Kebijakan

Kenaikan biaya dana (cost of fund) akibat persaingan bunga akan menekan Net Interest Margin (NIM) bank menengah.

Ruang gerak penurunan bunga kredit pun semakin sempit berdampak pada daya saing pinjaman.

Kondisi ini menuntut respons kebijakan yang memastikan aliran likuiditas merata ke seluruh lapisan perbankan.

Tanpa intervensi yang tepat fungsi intermediasi bank menengah berisiko terhambat jangka menengah.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *