Sulseltimes.com, Makassar, Kamis, 20/08/2026 — Rudiyansyah memperoleh gelar doktor dari Program Studi S3 Administrasi Publik Universitas Hasanuddin usai mempertahankan disertasi yang menganalisis inovasi program kesejahteraan Orang Asli Papua di Kabupaten Biak Numfor.
- Rudiyansyah lulus S3 Administrasi Publik Unhas
- Disertasi menganalisis program kesejahteraan OAP di Biak Numfor
- Dana Otsus difokuskan untuk nelayan petani dan UMKM
- Rekomendasi keterlibatan akademisi IISIP YAPIS Biak
- Fasilitas es 20 ton dibangun di empat titik
Penelitian yang berjudul “Analisis Inovasi Program Kesejahteraan Orang Asli Papua (OAP) di Kabupaten Biak Numfor” itu menyoroti pelaksanaan program-program yang didanai dari dana Otonomi Khusus (Otsus). Sasaran program mencakup nelayan, petani, serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Kalau disertasi saya terkait dengan analisis inovasi program kesejahteraan bagi Orang Asli Papua (OAP). Program ini tentunya diperuntukkan oleh Orang Asli Papua sendiri dan menggunakan dana Otonomi Khusus (Otsus),” kata Rudiyansyah, Kamis, 20/08/2026.
Ia berharap hasil penelitian tidak hanya menjadi karya akademik, tetapi juga melahirkan rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran. Menurutnya, evaluasi terhadap program yang berjalan diperlukan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan.
Peran Akademisi dan Evaluasi Kebijakan
Rudiyansyah menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam membantu pemerintah daerah memecahkan persoalan kesejahteraan masyarakat. Ia secara khusus menyarankan agar akademisi dari IISIP YAPIS Biak dilibatkan dalam penyusunan dan evaluasi kebijakan pemerintah daerah.
“Kita harapkan bahwa keterlibatan akademisi dari IISIP YAPIS Biak tentu dapat memberikan kontribusi yang tepat terkait dengan masalah kesejahteraan,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi tersebut vital karena perguruan tinggi memiliki sumber daya penelitian untuk memetakan persoalan, mengevaluasi kebijakan, serta menawarkan alternatif penyelesaian. Ia berharap pemerintah daerah mengoptimalkan keterlibatan akademisi guna menyelesaikan masalah sosial.
Program Perikanan dan Replikasi Kebijakan
Dalam penelitiannya, Rudiyansyah mengkaji sejumlah program seperti bantuan pembangunan rumah, pemberdayaan UMKM, dan dukungan sektor perikanan. Salah satu temuan penting adalah pembangunan fasilitas penyimpanan es berkapasitas besar di sejumlah kampung nelayan.
“Ada pembangunan es yang cukup besar, gudang es yang begitu besar yaitu kapasitas 20 ton dalam satu titik, dan itu ada empat titik dari beberapa kampung. Memang itu diperuntukkan nelayan,” jelas Rudiyansyah.
Fasilitas itu dinilai berkaitan erat dengan peningkatan produktivitas nelayan, khususnya dalam menjaga kualitas hasil tangkapan pasca melaut. Ia berharap temuan disertasinya ditindaklanjuti menjadi kebijakan maupun program konkret oleh pemerintah daerah.
“Ya, tentunya itu yang kita harapkan. Apa pun yang menjadi hasil dari penelitian ini menjadi rekomendasi dan masukan kepada pemerintah daerah agar ditindaklanjuti dan menjadi program ke depannya,” tegasnya.
Rudiyansyah juga mendorong publikasi hasil penelitian secara luas agar dapat menjadi referensi bagi daerah lain, baik di Papua maupun seluruh Indonesia. Ujian doktor tersebut dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. H. Muhammad Yunus, M.A. dan Ko-Promotor Dr. Muh. Tang Abdullah, S.Sos., M.Si. serta dihadiri oleh Plt. Ketua Program Studi Prof. Dr. Phil Sukri, S.IP., M.Si.















