Sulseltimes.com, Jakarta, Jumat, 19/06/2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 0,08% ke level 6.177,14 meskipun sempat berfluktuasi tajam setelah rilis hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026.
- IHSG ditutup menguat 0,08% ke 6.177,14
- Volume transaksi Rp25,89 triliun dengan 30,23 miliar saham
- MSCI menurunkan peringkat kriteria arus informasi Indonesia jadi negatif
- Saham BYAN, MORA, BBCA topang indeks; TLKM jadi pemberat utama
- BEI klaim sudah lakukan pembenahan keterbukaan informasi
Pergerakan IHSG di Tengah Volatilitas
IHSG bergerak di rentang 6.117,31 hingga 6.215,06 sepanjang hari.
Nilai transaksi mencapai Rp25,89 triliun dengan volume 30,23 miliar saham dalam 1,7 juta kali transaksi.
Sebanyak 353 saham menguat, 358 saham melemah, dan 248 saham stagnan.
Sektor energi menjadi motor utama dengan kenaikan 4,90%.
Sektor kesehatan melonjak 3,99% dan teknologi naik 2,12%.
Sebaliknya, sektor bahan baku melemah 2,04%, diikuti utilitas turun 1,23%, industri 1,10%, dan keuangan 0,54%.
Faktor Pendorong dan Penekan IHSG
Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi penopang terbesar indeks dengan kontribusi 23,84 poin.
PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menyumbang 21,07 poin dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 14,05 poin.
Saham lain yang turut menopang antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA), dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO).
Tekanan terbesar datang dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang memangkas indeks hingga 18,79 poin.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga menjadi pemberat.
Sorotan MSCI: Arus Informasi Memburuk
Volatilitas pasar dipicu oleh MSCI Global Market Accessibility Review yang dirilis Jumat subuh.
Dalam laporan itu, peringkat kriteria arus informasi (Information Flow) untuk Indonesia diturunkan dari positif menjadi negatif.
Penyebabnya adalah ketidakjelasan struktur kepemilikan saham di pasar modal domestik.
Selain itu, terdapat indikasi perilaku perdagangan yang terkoordinasi, dinilai merusak pembentukan harga wajar.
Praktik ini membatasi kemampuan investor institusional internasional dalam menilai true free float.
Investor asing juga kesulitan mengandalkan harga pasar objektif untuk konstruksi portofolio dan replikasi indeks.
Laporan juga mencatat kriteria hak setara bagi investor asing (Equal Rights to Foreign Investors) masih terhambat karena informasi aksi korporasi tidak selalu tersedia dalam bahasa Inggris.
Meski demikian, kerangka operasional lain seperti infrastruktur penitipan aset, registrasi, mekanisme perdagangan, dan batasan kepemilikan asing masih dinilai sangat baik.
Upaya BEI
Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan pembenahan keterbukaan informasi, termasuk membuka data kepemilikan saham di atas 1% dan merilis data HSC.
Langkah ini diharapkan meningkatkan transparansi dan memulihkan kepercayaan investor asing.
Meskipun tekanan volatilitas masih terasa, IHSG mampu bertahan di level 6.100-an pada penutupan perdagangan.







