Hiburan

Dari Jualan Kembang Api hingga Jadi Raja Rokok: Kisah Oei Wie Gwan Pendiri Djarum

Avatar of Sulsel Times
0
×

Dari Jualan Kembang Api hingga Jadi Raja Rokok: Kisah Oei Wie Gwan Pendiri Djarum

Sebarkan artikel ini
Dari Jualan Kembang Api hingga Jadi Raja Rokok: Kisah Oei Wie Gwan Pendiri Djarum
Dari Jualan Kembang Api hingga Jadi Raja Rokok: Kisah Oei Wie Gwan Pendiri Djarum. Doc ist.
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, Mei 17, 2026 — Oei Wie Gwan memulai bisnis dengan menjual kembang api merek Leo sebelum akhirnya mendirikan kerajaan rokok Djarum. Perjalanan usahanya penuh liku, mulai dari ledakan pabrik yang memakan korban jiwa hingga kebakaran yang nyaris menghancurkan perusahaannya.

Kini, di bawah kendali anak-anaknya, Djarum tumbuh menjadi konglomerasi dengan portofolio di perbankan, elektronik, perdagangan, hingga bulu tangkis.

Ringkasnya…
  • Oei Wie Gwan merintis usaha kembang api cap Leo
  • Ledakan pabrik di Rembang tewaskan lima pekerja dan 14 luka
  • Tahun 1951 ia membeli pabrik rokok kretek dan mendirikan Djarum
  • Kebakaran besar tahun 1963 dan kematian Oei Wie Gwan
  • Anak-anaknya Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono sukses membesarkan Djarum
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Dari Kembang Api ke Rokok: Perjalanan Awal Oei Wie Gwan

Oei Wie Gwan pertama kali dikenal sebagai pengusaha kembang api cap Leo. Menurut catatan Jongki Tio dalam buku Kota Semarang Dalam Kenangan (2000), kembang api Leo sudah menembus pasar ekspor.

Namun, bisnis ini memiliki risiko tinggi. Bataviaasch Nieuwsblad melaporkan ledakan dahsyat di pabrik kembang api milik Oei Wie Gwan di Rembang.

Akibatnya, lima pekerja tewas seketika, 22 orang luka berat, dan 14 luka ringan. Sembilan orang di antaranya kemudian meninggal di rumah sakit.

“Bisnis kembang api sangat rawan kecelakaan,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad dalam laporannya. Peristiwa itu mendorong Oei Wie Gwan untuk mencari peluang baru setelah perang Indonesia-Belanda mereda.

Banting Setir ke Rokok dan Kejayaan Djarum

Alih-alih menjauh dari produk yang perlu dibakar, Oei Wie Gwan justru beralih ke rokok. Pada 1951, ia membeli sebuah pabrik rokok kretek kecil di Kudus, Jawa Tengah, yang semula bernama Djarum Gramophon. Nama itu kemudian disingkat menjadi Djarum. Pabriknya beralamat di Jalan Bitingan Baru nomor 28 (sekarang Jalan Ahmad Yani).

Musibah kembali datang. Pada 1963, kebakaran besar hampir menghancurkan pabrik Djarum, sebagaimana dicatat Rudi Badil dalam Kretek Jawa (2011). Tak lama setelah itu, Oei Wie Gwan meninggal dunia. Namun, dua anaknya—Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono—berhasil memulihkan keadaan.

“Mereka berhasil memulihkan keadaan,” tulis Rudi Badil. Kedua anak Oei Wie Gwan serius mengembangkan industri keluarga.

Menurut Mark Hanusz dalam Kretek, The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes (2000), sejak 1970 Djarum membangun bagian penelitian dan pengembangan serta menggunakan mesin-mesin modern. Pada 1976, mereka meluncurkan rokok kretek filter, disusul Djarum Super pada 1981 yang menjadi ikon hingga sekarang.

Djarum juga identik dengan bulu tangkis. PB Djarum berdiri di Kudus dan membina atlet bulu tangkis berkat bisnis rokok.

Kini, kekayaan Djarum merambah berbagai sektor, elektronika (Polytron), perkebunan (HPI Argo), pusat perbelanjaan (Grand Indonesia), perdagangan elektronik (Blibli), agen perjalanan (tiket.com), dan perbankan melalui Bank Central Asia (BCA).

Fakta menarik, pemilik awal BCA, Liem Sioe Liong, adalah kawan lama Oei Wie Gwan sejak tinggal di Kudus.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *