Sulseltimes.com, Jakarta, Rabu, 30/09/2026 — Bank Indonesia menjangka BI Rate tetap di 5,75% sementara pasar menantikan langkah The Fed pada Oktober 2026.
- BI Rate tetap di 5,75% sejak rapat dewan gubernur Juni 2026
- CME FedWatch memperkirakan 65% peluang The Fed naik suku bunga sekali lagi di Oktober 2026
- Erwin Gunawan Hutapea (Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI) menyatakan keputusan suku bunga BI bersifat data dependent dan belum bisa diprediksi sebelum RDG bulan depan
- Josua Pardede (Chief Economist Bank Permata) memperkirakan BI Rate bisa naik 25 basis poin menjadi 6,00% pada kuartal IV-2026
- M. Rizal Taufikurahman (INDEF) menegaskan peluang kenaikan BI Rate meningkat jika depresiasi rupiah, arus modal keluar, dan ekspektasi inflasi terganggu
BI Rate telah ditahan pada level 5,75% sejak rapat dewan gubernur BI pada Juni 2026. Keputusan itu menandakan empat bulan beruntun suku bunga acuan tidak berubah, meski berbagai bank sentral negara maju telah mengangkat suku bunga mereka.
BI Menunggu Sinyal The Fed
Pasar keuangan global memperkirakan probabilitas sekitar 65% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya sekali lagi pada pertemuan akhir Oktober 2026, berdasarkan data CME FedWatch. Apabila hal itu terjadi, BI menilai bahwa keputusan suku bunga domestik tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi dalam negeri.
“Jadi suku bunga kebijakan itu data dependent. Enggak ada yang bisa bilang sekarang apa yang akan dilakukan oleh BI dalam RDG bulan depan, RDG November atau RDG Desember,” kata Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, di Kantor Pusat BI, Jl Thamrin, Jakarta, Rabu, 30/09/2026.
Proyeksi Kenaikan BI Rate ke 6,00%
Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata, menilai peluang BI menaikkan kembali BI Rate pada kuartal IV-2026 semakin besar. Ia merevisi perkiraan akhir tahun menjadi 6,00% setelah menambahkan 25 basis poin, terutama mengingat kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026.
“Peluang BI menaikkan kembali BI Rate pada kuartal IV-2026 memang meningkat. Kami merevisi perkiraan dengan memasukkan kenaikan tambahan 25 basis poin menjadi 6,00%, terutama karena setelah kenaikan suku bunga The Fed pada September,” kata Josua Pardede kepada CNBC Indonesia, Rabu, 30/09/2026.
Faktor Risiko Domestic
Di sisi lain, M. Rizal Taufikurahman dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menekankan bahwa peluang kenaikan BI Rate lebih lanjut bisa meningkat jika depresiasi rupiah berlangsung lebih cepat, arus modal keluar membesar, dan ekspektasi inflasi mulai terganggu.
“Peluang kenaikan BI-Rate pada Oktober-November meningkat apabila depresiasi berlangsung cepat, arus modal keluar membesar, dan ekspektasi inflasi mulai terganggu,” kata Rizal Taufikurahman, Rabu, 30/09/2026.
Sebagai respons, Bank Indonesia terus memantau data inflasi, nilai tukar, dan kredit untuk menentukan langkah selanjutnya dalam rapat dewan gubernur yang akan datang.














