Sulseltimes.com, Jakarta, Selasa, 29/09/2026 — Bank Indonesia berpeluang menaikkan kembali suku bunga ACU (BI Rate) di sisa tahun 2026, bahkan mencapai 6% di akhir tahun.
- Josua Pardede menyebutkan BI berpeluang menaikkan BI Rate menjadi 6,00% di akhir 2026
- Pihak BI merevisi perkiraan suku bunga dengan kenaikan 25 basis poin
- Faktor utama termasuk kenaikan suku bunga The Fed pada September
- Kandidat PIKOP: BI Rate ke 6,00%
- Keamanan kebijakan: BI akan mempertimbangkan depresiasi rupiah dan inflasi
Menurut Chief Economist Bank Permata Josua Pardede, perkiraan BI Rate pada akhir 2026 telah revisi ke 6,00% setelah mempertimbangkan kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada bulan September. Pihak BI menyatakan ia mungkin akan menambah suku bunga ACU oleh 25 basis poin untuk memperhatikan dinamika ekonomi global.
“Peluang BI menaikkan kembali BI Rate pada kuartal IV-2026 memang meningkat. Kami merevisi perkiraan dengan memasukkan kenaikan tambahan 25 basis poin menjadi 6,00%, terutama karena setelah kenaikan suku bunga The Fed pada September,” kata Josua Pardede kepada CNBC Indonesia, yang dikutip Selasa 29/09/2026.
Josua Pardede menekankan bahwa penampilan BI tidak harus mengikuti The Fed secara harfiah, namun harus mempertimbangkan beberapa faktor strategis termasuk depresiasi rupiah, arus modal internasional, nilai tukar mata uang asing, serta potensi kenaikan harga barang impor.
“Jadi sikap pengetatan The Fed sangat relevan bagi keputusan BI, bukan karena BI harus mengikuti The Fed satu per satu, tetapi karena BI harus mempertimbangkan selisih suku bunga, arus modal, rupiah, dan potensi kenaikan harga barang impor,” terang Josua.
Sementara itu, M. Rizal Taufikurahman, Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menyebutkan peluang kenaikan BI Rate lebih lanjut dapat terjadi jika depresiasi rupiah berlangsung lebih cepat. “Peluang kenaikan BI-Rate pada Oktober-November meningkat apabila depresiasi berlangsung cepat, arus modal keluar membesar, dan ekspektasi inflasi mulai terganggu,” menceritakan Taufikurahman.
Kedua ekspert ini menegaskan bahwa keputusan BI untuk menahan atau menaikkan suku bunga ACU berbasis pada kondisi domestik serta efisiensi stabilisasi ekonomi. “BI menghadapi pilihan yang mahal, keluarga kenaikan bunga dapat menekan kredit dan pertumbuhan, sementara pelemahan kurs berkepanjangan menaikkan biaya produksi dan menggerus daya beli,” ungkap Rizal.
Penelitian ini mengacu pada pernyataan langsung dari tokoh-tokoh ekonomi nasional yang terkait dengan dinamika birokrasi moneter dan kondisi ekonomi Indonesia. Analisis ini menunjukkan bahwa BI memiliki ruang untuk menunggu jika tekanan rupiah bersifat sementara dan intervensi valuta asing cukup efektif.














