Sulseltimes.com, Makassar, Selasa, Mei 19, 2026 — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mendorong aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Makassar untuk menghasilkan karya tulis buku setiap tahun. Ajakan ini disampaikan dalam acara talkshow literasi Hari Buku Nasional Tahun 2026 di Perpustakaan Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Selasa, Mei 19, 2026.
Menurut Munafri, penulisan buku oleh pejabat eselon III seperti kepala bidang dan kepala subbagian dapat berkontribusi pada penguatan budaya literasi sekaligus referensi bagi pelajar.
- Munafri dorong ASN hasilkan satu buku per tahun
- Target 150 buku baru dari perangkat daerah
- Buku disusun dengan bahasa sederhana untuk SD dan SMP
- Acara talkshow Hari Buku Nasional di Perpustakaan Unhas
- Kolaborasi lintas sektor dianggap kunci penguatan literasi
Strategi Literasi Aplikatif dari Internal Pemerintah
Munafri Arifuddin menjelaskan bahwa karya tulis yang diharapkan tidak harus bersifat akademik berat. “ASN harus punya karya. Minimal satu buku yang bisa menjadi pegangan, baik sebagai referensi maupun bentuk penguatan literasi personal dan institusional,” kata Munafri Arifuddin, Wali Kota Makassar, Selasa, Mei 19, 2026.
Ia menekankan buku sebaiknya ditulis dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami pelajar tingkat SD dan SMP, serta mengangkat tema keseharian seperti pengelolaan sampah atau kepedulian lingkungan.
Jika setiap perangkat daerah mampu menghasilkan satu buku setiap tahun, Pemerintah Kota Makassar akan memproduksi sekitar 150 buku baru.
“Buku-buku ini nantinya akan didistribusikan ke sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta,” kata Munafri. Saat ini, puluhan SMP dan ratusan SD di Makassar dinilai membutuhkan bahan bacaan kontekstual.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Digitalisasi
Munafri menegaskan penguatan literasi memerlukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, penerbit, dan pemangku kepentingan lainnya. “Kolaborasi menjadi kunci dalam membangun kota, termasuk dalam penguatan literasi,” ujarnya.
Ia juga menyebut perpustakaan bukan sekadar tempat membaca, melainkan ruang asimilasi beragam disiplin ilmu.
Terkait transformasi digital, ia menilai digitalisasi tidak menghilangkan peran buku cetak, melainkan menjadi jembatan untuk memperluas akses literasi.
“Kita harus membangun kombinasi yang baik antara keduanya,” kata Munafri. Pemerintah Kota Makassar, melalui Dinas Perpustakaan, terus menggelar program literasi hingga tingkat kelurahan.
Munafri berharap kegiatan literasi tidak berhenti seremonial tetapi menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia mengajak seluruh pihak menjaga indeks literasi Kota Makassar yang saat ini termasuk tinggi di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.















