Bisnis

IHSG Anjlok Lebih dari 4%, BEI Sebut Tekanan Datang dari Berbagai Arah

Avatar of Sulsel Times
0
×

IHSG Anjlok Lebih dari 4%, BEI Sebut Tekanan Datang dari Berbagai Arah

Sebarkan artikel ini
IHSG Anjlok Lebih dari 4%, BEI Sebut Tekanan Datang dari Berbagai Arah
IHSG Anjlok Lebih dari 4%, BEI Sebut Tekanan Datang dari Berbagai Arah
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Selasa, Mei 19, 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam hingga menembus 4% dalam perdagangan hari ini. Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan ketidakpastian global dari berbagai penjuru menjadi pemicu utama aksi jual investor asing. Data sementara menunjukkan tekanan berasal dari fluktuasi komoditas, nilai tukar, hingga situasi geopolitik yang belum menentu.

Ringkasnya…
  • IHSG anjlok lebih dari 4% dalam satu sesi
  • Tekanan datang dari fluktuasi komoditas, nilai tukar, dan geopolitik
  • Pjs Dirut BEI Jeffrey Hendrik memberikan pernyataan resmi
  • Perdagangan berlangsung pada Selasa, 19 Mei 2026
  • Aksi jual asing didorong oleh rebalancing dan ketidakpastian global
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

BEI: Aksi Jual Asing Wajar, Namun Perlu Diwaspadai

Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengakui bahwa tekanan terhadap IHSG sangat terasa. Dalam keterangan di Gedung BEI Jakarta, Selasa, Mei 19, 2026, ia menyebut bahwa penurunan ini merupakan respons pasar terhadap berbagai faktor eksternal.

“Kami tentu koordinasi dengan OJK dan memonitor aktivitas investor asing secara ketat,” ujarnya.

Jeffrey menambahkan bahwa keputusan investor untuk melakukan aksi jual merupakan aktivitas yang wajar. “Dengan rencana rebalancing yang dilakukan investor asing, ini adalah aktivitas yang wajar,” jelasnya.

Ia merinci sumber ketidakpastian meliputi fluktuasi harga minyak, pergerakan nilai tukar di berbagai negara, serta konflik geopolitik di Timur Tengah dan Rusia.

Tekanan dari Lembaga Rating dan Upaya Jangka Panjang

Selain faktor makro, penyesuaian kebijakan oleh lembaga rating seperti MSCI dan FTSE turut membebani pasar. Jeffrey enggan memprediksi kapan tekanan akan mereda.

“Kami memantau terus pergerakannya dari hari ke hari,” ucapnya. Meski demikian, BEI berkomitmen memperbaiki iklim investasi jangka panjang agar Indonesia tetap menjadi tujuan investasi.

Ia menegaskan bahwa infrastruktur perdagangan, pengaturan, dan pengawasan akan terus ditingkatkan.

“Kami akan memastikan infrastruktur perdagangan berjalan dengan baik, pengaturan dan pengawasan juga berjalan dengan baik,” tutupnya.

Dengan langkah ini, diharapkan investor asing kembali percaya pada pasar modal Indonesia.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *