Hiburan

Mitos Tuyul Tak Bisa Curi Uang di Bank: Penjelasan Sejarah dan Sosiologis

Avatar of Sulsel Times
0
×

Mitos Tuyul Tak Bisa Curi Uang di Bank: Penjelasan Sejarah dan Sosiologis

Sebarkan artikel ini
Mitos Tuyul Tak Bisa Curi Uang di Bank: Penjelasan Sejarah dan Sosiologis
Mitos Tuyul Tak Bisa Curi Uang di Bank: Penjelasan Sejarah dan Sosiologis. Doc ist.
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Makassar, Minggu, Mei 17, 2026 — Mitos tuyul yang konon tidak bisa mencuri uang di bank memiliki penjelasan historis dan sosiologis yang jarang diketahui. Menurut para budayawan, kepercayaan ini muncul akibat perubahan kebijakan kolonial Belanda pada tahun 1870 yang memicu kesenjangan sosial dan kecemburuan petani terhadap pedagang kaya baru.

Hingga saat ini, belum ada catatan resmi bank yang kehilangan uang akibat tuyul, sehingga mitos tersebut lebih mencerminkan dinamika sosial di masa lalu.

Ringkasnya…
  • Mitos tuyul tidak bisa mencuri di bank bukan karena logam atau penjaga halus
  • Penjelasan sejarah berasal dari liberalisasi ekonomi Belanda 1870
  • Budayawan Suwardi Endraswara menyebut tuyul mencuri dari rumah ke rumah
  • Perubahan ekonomi membuat petani iri pada pedagang kaya baru
  • Tuduhan tuyul digunakan untuk menjelaskan kekayaan yang tak terlihat usahanya
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Asal-Usul Mitos Tuyul di Masyarakat Jawa

Tuyul dikenal dalam cerita rakyat Indonesia sebagai makhluk halus bertubuh kecil dan botak yang bisa mencuri uang untuk tuannya. Budayawan Suwardi Endraswara dalam buku Dunia Hantu Orang Jawa (2004) menuliskan bahwa kegiatan tuyul dilakukan dari rumah ke rumah, tidak hanya mencuri uang tetapi juga barang dan surat berharga.

“Pekerjaan tuyul tak hanya sebatas mencuri uang, tetapi juga barang dan surat-surat berharga,” katanya dalam buku tersebut. Namun, belum ada kasus nyata bank kehilangan uang akibat makhluk ini.

Di internet beredar berbagai jawaban spekulatif, seperti tuyul takut pada logam di brankas atau ada penjaga halus di bank. Namun, semua itu hanya dugaan tanpa dasar logis. Penjelasan sains justru menunjukkan akar mitos ini berasal dari perubahan sosial-ekonomi pada abad ke-19.

Kaitan dengan Kebijakan Kolonial Belanda 1870

Sejarawan Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012) menjelaskan bahwa liberalisasi ekonomi pada 1870 menggantikan sistem tanam paksa.

Kebijakan ini justru memperburuk kehidupan petani kecil di Jawa karena lahan perkebunan mereka diambil alih. Di sisi lain, pedagang pribumi dan Tionghoa menjadi kaya mendadak.

Petani yang menganut sistem subsisten, sebagaimana dijelaskan Ong Hok Ham dalam Wahyu yang Hilang Negeri Yang Guncang (2019), tidak melihat proses kerja keras di balik kekayaan pedagang.

“Mereka beranggapan kekayaan harus dipertanggungjawabkan, dan jika gagal, tuduhan pencurian pun muncul,” tulis George Quinn dalam An Excursion to Java’s Get Rich Quick Tree (2009). Tuduhan itu kemudian dikaitkan dengan tuyul.<

Dampaknya, pedagang sukses kehilangan status sosial karena dianggap bersekutu dengan setan. Mereka cenderung membeli barang yang tidak mencolok seperti emas untuk menghindari tuduhan.

Mitos tuyul pun terus populer hingga kini, terutama di komunitas agraris yang masih memegang pandangan mistis.

Kesimpulannya, mitos tuyul tidak bisa mencuri uang di bank bukanlah kebenaran literal, melainkan cerminan kecemburuan sosial dan kesalahpahaman atas perubahan ekonomi di masa kolonial.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana mitologi dapat lahir dari ketimpangan yang tidak terjelaskan secara rasional.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *