Sulseltimes.com, Kuala Lumpur, Minggu, 21/06/2026 — Putra tunggal miliarder Malaysia Ananda Krishnan memilih meninggalkan warisan senilai Rp89 triliun dan hidup sebagai biksu Buddha. Keputusan Ven Ajahn Siripanyo diambil sejak usia 18 tahun dan dihormati penuh oleh keluarganya.
- Anak konglomerat Malaysia pilih jadi biksu
- Warisan Rp89 triliun ditinggalkan
- Ananda Krishnan, miliarder dengan kekayaan US$5 miliar
- Siripanyo memilih hidup monastik sejak 18 tahun
- Kisah nyata pengabdian spiritual versus kemewahan
Latar Belakang Keluarga dan Keputusan Hidup
Ananda Krishnan dikenal sebagai salah satu miliarder terbesar di Malaysia. Pendiri kerajaan bisnis di sektor telekomunikasi, satelit, minyak, properti, dan media itu memiliki kekayaan sekitar US$5 miliar atau setara Rp89 triliun.
Putra tunggalnya, Ven Ajahn Siripanyo, justru memilih jalan hidup yang berbeda. Ia memutuskan menjadi biksu Buddha saat berusia 18 tahun.
“Pilihan Ajahn Siripanyo sepenuhnya adalah pilihannya sendiri, dan itu dihormati dalam keluarga,” tulis laporan yang dikutip dari South China Morning Post melalui Economic Times.
Siripanyo juga memiliki darah bangsawan Thailand dari sang ibu, Momwajarongse Suprinda Chakraban. Ibu Siripanyo merupakan keturunan keluarga kerajaan Thailand.
Latar belakang tersebut membuatnya tumbuh dengan akses terhadap kehidupan mewah dan lingkungan elite. Namun, alih-alih mengikuti jejak bisnis sang ayah, Siripanyo memilih menempuh jalan spiritual.
Perjalanan Menjadi Biksu dan Kehidupan di Biara
Awalnya Siripanyo mengikuti retret keagamaan di Thailand untuk sementara waktu. Pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi komitmen seumur hidup sebagai biksu.
Selama lebih dari dua dekade, ia menjalani kehidupan sebagai biksu hutan. Siripanyo bermukim di Biara Dtao Dum yang berada di dekat perbatasan Thailand dan Myanmar.
Dalam kesehariannya, ia menjalankan ajaran Buddha yang menekankan kesederhanaan. Siripanyo meninggalkan materialisme dan hidup dari kemurahan hati masyarakat.
Siripanyo menghabiskan masa kecilnya di London bersama kedua saudara perempuannya. Ia menempuh pendidikan di Inggris dan menguasai sedikitnya delapan bahasa.
Pengalaman hidup lintas budaya itu disebut turut membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Hal itu sekaligus memperdalam pemahamannya mengenai ajaran Buddha.
Hubungan dengan Keluarga dan Makna Spiritual
Meski memilih kehidupan monastik, Siripanyo tetap menjaga hubungan dengan keluarganya. Ia sesekali mengunjungi sang ayah dan kembali berinteraksi dengan kehidupan lamanya.
Hal tersebut dilakukan sejalan dengan prinsip-prinsip Buddha yang menghargai ikatan keluarga.
Kisah hidup Siripanyo kerap dibandingkan dengan karakter Julian Mantle dalam novel “The Monk Who Sold His Ferrari”. Bedanya, jika tokoh tersebut hanya fiksi, perjalanan Siripanyo menjadi contoh nyata yang langka.
Ia menjadi bukti seseorang yang memilih pengabdian spiritual dibandingkan kekayaan dan kemewahan yang telah tersedia di depan mata.















