Sulseltimes.com, Makassar, Senin, 31/08/2026 — Microsoft Teams dijadikan platform utama oleh jaringan penipu asal China untuk menjalankan modus penipuan berkedok cinta dan lowongan kerja palsu yang merugikan korban hingga miliaran rupiah.
- Microsoft Teams jadi platform favorit penipu di China
- 30 persen ulasan App Store China keluh penipuan
- Korban rugi hingga Rp 5,4 miliar per kasus
- Microsoft hapus versi personal Teams di China Agustus 2026
- Otoritas China terbitkan peringatan resmi
Analisis media Wired terhadap 500 ulasan aplikasi Teams di App Store versi China selama 18 bulan terakhir menunjukkan sekitar 30 persen ulasan berisi keluhan soal penipuan. Keluhan terkait modus ini telah tercatat sejak 2022.
Modus penipuan biasanya dimulai dari platform media sosial populer di China seperti Xiaohongshu (RedNote) atau Douyin. Pelaku menghubungi calon korban sambil menyamar sebagai perekrut kerja, pasangan romantis, mitra bisnis, hingga vendor pabrik.
Modus Operandi Penipuan
Pada modus lowongan kerja palsu, korban dijanjikan pekerjaan bergaji tinggi dengan sistem remote. Korban kemudian diarahkan pindah ke Teams dengan dalih proses wawancara maupun pengiriman dokumen pribadi.
Platform kolaborasi bisnis lain seperti Cisco Webex juga disebut dipakai jaringan penipu dengan modus serupa.
Setelah korban percaya, pelaku meminta korban mengunduh Microsoft Teams dan login menggunakan akun yang sudah disiapkan pelaku, bukan akun pribadi korban. Alasan yang dipakai antara lain klaim “rahasia bersama” atau penggunaan perangkat kantor dengan akses terbatas.
Begitu aksi penipuan selesai, pelaku menonaktifkan akun Teams yang dipakai. Korban kehilangan akses ke seluruh riwayat percakapan yang seharusnya menjadi bukti penting untuk melapor.
Tanpa bukti percakapan, korban kesulitan membuktikan kronologi penipuan ke polisi, apalagi pelaku kerap beroperasi lintas negara.
Kesan resmi dan profesional yang melekat pada Microsoft Teams membuat korban mudah percaya. Platform ini dikenal luas sebagai layanan kerja resmi perusahaan besar, sehingga jarang dicurigai sebagai media penipuan.
Kerugian korban bervariasi, mulai dari 1.500 dollar AS (sekitar Rp 27 juta) hingga 300.000 dollar AS (sekitar Rp 5,4 miliar). Zhao, warga Beijing, kehilangan lebih dari 100.000 dollar AS (sekitar Rp 1,8 miliar) pada Mei 2026 melalui modus penipuan berkedok cinta. Hingga kini hanya satu korban yang berhasil memulihkan sebagian dana setelah pihak berwajib melacak rekening bank penerima transfer.
Tanggapan Microsoft dan Otoritas
“Kami menyelidiki laporan penyalahgunaan, mengambil tindakan terhadap akun yang melanggar kebijakan kami, dan terus memperkuat keamanan yang dirancang untuk mengidentifikasi serta menghentikan aktivitas penipuan,” kata Steven Masada, Kepala Divisi Kejahatan Digital Microsoft, Senin, 31/08/2026.
Microsoft telah mengambil langkah nyata. Pada Juni 2026, perusahaan memasang banner peringatan di aplikasi Teams versi China. Pada Agustus 2026, Microsoft menghapus versi Teams untuk pengguna pribadi di China dan hanya menyisakan akses lewat akun korporat.
Otoritas penegak hukum China turut mengeluarkan peringatan resmi soal Teams sebagai aplikasi penipuan agar masyarakat lebih waspada, terutama saat diminta pindah ke platform yang jarang dipakai untuk urusan pribadi sehari-hari.
Platform jejaring profesional Maimai memasang sistem peringatan otomatis yang aktif saat mendeteksi kata kunci “Teams” atau “Skype” dalam percakapan penggunanya.
Maraknya keluhan ini menekan reputasi Microsoft di China, mengingat Teams selama ini dipromosikan sebagai platform kerja yang aman bagi bisnis maupun individu.















