Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, 31/08/2026 — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatat laba bersih semesteran pertama kali dalam sejarah namun dihadapkan pada tekanan regulasi komisi ojol dan rencana penghapusan floor price saham di bursa.
- GoTo catat laba bersih Rp608 miliar semester I 2026
- Regulasi komisi ojol dipangkas ke 8%
- BEI rencanakan hapus floor price Rp50
- Analis: tekanan jangka pendek tapi peluang likuiditas
- Morgan Stanley borong saham di harga Rp23
Emiten pengelola Gojek dan GoPay itu meraih laba bersih Rp608 miliar pada semester pertama 2026, membalikkan rugi bersih Rp580 miliar pada periode sama tahun lalu. Momentum profitabilitas itu kini diuji oleh dua sentimen besar sekaligus.
Regulasi Komisi dan Floor Price Jadi Sentimen Utama
Pemerintah telah menerapkan batas komisi maksimal 8 persen untuk layanan angkutan roda dua, turun drastis dari 20 persen sebelumnya. Untuk layanan pengantaran makanan dan barang, kerangka aturan masih disusun oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) disesuaikan dengan karakteristik bisnis.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan pencarian titik keseimbangan yang adil. “Kita coba pastikan bahwa semua proses itu berlangsung secara fair, sehingga pengemudi mendapatkan haknya ya dengan cukup fair dan juga platform bisa mendapatkan margin yang pantas sehingga mereka juga bisa sustain,” kata Nezar Patria, Wamen Komunikasi dan Digital, Senin, 31/08/2026.
Di sisi pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI) merencanakan penghapusan aturan harga saham terendah (floor price) Rp50 untuk semua papan pencatatan. Konsekuensinya, harga saham bisa turun hingga level Rp1. Saham GoTo telah mengambang di level Rp50 lebih dari tiga bulan dan terkeluarkan dari indeks global FTSE maupun MSCI.
Fundamental GoTo Dinilai Masih Kuat Didukung Fintech
Analis MNC Sekuritas, Christian, menilai perubahan aturan menciptakan dinamika baru namun memiliki sisi positif. “Kalau aturan harga terendah diubah, ekspektasinya harga saham GoTo turun ke bawah Rp50. Ini ada sisi positifnya karena penjual bisa bertemu pembeli di harga tertentu. Kontras dengan kondisi di Rp50 ketika ada antrean jual lebih banyak dari beli sehingga transaksi tidak matched,” kata Christian, Analis MNC Sekuritas, Senin, 31/08/2026.
Ia menambahkan potensi penurunan harga memicu short term pain, namun likuiditas perdagangan bisa membaik serta price discovery dan price recovery dapat terjadi. Passive fund yang tertahan akibat eksklusi indeks berpeluang melakukan rebalancing.
Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Aziz, sepakat tekanan bersifat temporer. “Saya melihat ruang GoTo untuk memperkuat fundamental masih terbuka karena GoTo adalah sebuah ekosistem digital yang terintegrasi. Jadi kalau kinerja Gojek terdampak, masih ada GoPay,” kata Abdul Aziz, Analis Kiwoom Sekuritas, Senin, 31/08/2026.
Menurut Abdul Aziz, kepastian regulasi yang memberikan fleksibilitas pricing dan kualitas layanan menjadi katalis positif. Ia optimistis GoTo mampu mencapai target Adjusted EBITDA setahun penuh Rp3,2-3,4 triliun untuk 2026.
Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, menegaskan bisnis fintech menunjukkan kinerja unggul dan pertama kali melebihi profitabilitas On-demand Services. “Kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” kata Hans Patuwo, Direktur Utama GoTo, Senin, 31/08/2026.
Di tengah dinamika tersebut, Morgan Stanley tercatat memborong saham GoTo di harga Rp23 berdasarkan Keterbukaan Informasi. Dengan akuisisi itu, Morgan Stanley menjadi salah satu pemegang saham besar dengan total kepemilikan hampir 59,4 miliar unit atau setara 5,2 persen dari total saham beredar.














