Berita

Jabatan Tinggi Bukan Tiket Jadi Orang Dalam, Muhammadiyah Sentil Nepotisme

Avatar of Sulsel Times
0
×

Jabatan Tinggi Bukan Tiket Jadi Orang Dalam, Muhammadiyah Sentil Nepotisme

Sebarkan artikel ini
Jabatan Tinggi Bukan Tiket Jadi Orang Dalam, Muhammadiyah Sentil Nepotisme
Jabatan Tinggi Bukan Tiket Jadi Orang Dalam, Muhammadiyah Sentil Nepotisme
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Yogyakarta, Senin, 10/08/2026 — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta Rofiul Wahyudi mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikan jabatan tinggi sebagai pembenaran untuk nepotisme, diskriminasi, atau tebang pilih.

Ringkasnya…
  • Muhammadiyah ingatkan jabatan bukan alasan nepotisme
  • Integritas dan harga diri jangan dikorbankan demi jabatan
  • Rofiul Wahyudi, Anggota Majelis Tabligh PWM DI Yogyakarta
  • Yogyakarta, Senin, 10/08/2026
  • Praktik tebang pilih bisa mengikis kepercayaan diri dan merusak pemahaman rezeki
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Rofiul menyampaikan pesan itu saat mengisi kajian yang menyoroti realitas sosial sebagian orang yang rela mengambil jalan pintas demi materi dan posisi penting.

Scroll Kebawah
Advertisement

Menurut Rofiul, orientasi yang mengukur kemuliaan seseorang dari kekayaan, jabatan, nasab, atau relasi kekuasaan bisa mendorong seseorang mengorbankan integritas dan harga diri.

“Sebagian orang hari ini rela mengorbankan integritas dan harga diri. Ada yang memilih bermuka dua, menjilat demi kelancaran urusan dengan mengatasnamakan nasab, kedudukan keluarga, atau relasi kekuasaan,” ujarnya, Senin, 10/08/2026.

Rofiul menilai praktik semacam itu bisa berkembang menjadi upaya mengatur siapa yang berhak menduduki posisi kekuasaan. Akibatnya, orang yang tidak memiliki relasi atau orang dalam berpotensi tersisih meski punya kemampuan dan integritas.

Kekayaan dan Jabatan Bukan Ukuran Kelayakan

Menurut Rofiul, fenomena ini berbahaya karena perlahan mengikis kepercayaan diri dan merusak pemahaman tentang rezeki. Manusia bisa keliru mengira keberhasilan hidup ditentukan oleh koneksi, nasab, jabatan, atau kedekatan dengan penguasa.

Rofiul mengaitkan persoalan itu dengan Surah Az-Zukhruf ayat 31. Dalam ayat itu, kaum musyrikin mempertanyakan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepada laki-laki agung yang memiliki kekayaan dan kekuasaan dari Makkah atau Thaif.

Menurut Rofiul, ayat itu menggambarkan cara pandang yang menjadikan kekayaan, kekuasaan, dan privilese sosial sebagai ukuran kelayakan seseorang. Mereka menganggap orang dengan status sosial tinggi lebih layak mendapat kedudukan mulia.

Rofiul menegaskan manusia tidak memiliki kuasa mutlak menentukan rezeki orang lain. Allah yang menentukan dan membagikan penghidupan setiap hamba.

“Perbedaan derajat, jabatan, dan kekayaan diciptakan oleh Allah agar manusia saling membutuhkan dan bekerja sama secara harmonis. Bukan untuk ajang tebang pilih, diskriminasi, atau kesombongan,” katanya.

Semua Peran Bagian dari Rantai Kebaikan

Dalam konteks kehidupan kampus, Rofiul mengajak jamaah melihat setiap pekerjaan dan profesi sebagai bagian dari mata rantai kebaikan.

Mahasiswa memiliki peran dengan bersungguh-sungguh menuntut ilmu, menjaga adab dan kejujuran, serta mempersiapkan diri menjadi generasi penerus yang berintegritas. Petugas keamanan berperan menjaga ketertiban. Pengelola parkir membantu menata kendaraan dan menjaga amanah. Petugas kebersihan menjaga kebersihan lingkungan.

Dosen memiliki ruang pengabdian melalui ilmu di kelas, penelitian, seminar ilmiah, pembimbingan mahasiswa, dan pengabdian masyarakat. Mereka yang mendapat amanah sebagai pengurus atau pejabat dituntut menggunakan kewenangan secara adil dan menjadikannya sarana melayani.

“Jabatan tinggi bukan alasan untuk berbuat nepotisme. Jabatan tinggi bukan alasan untuk bertebang pilih dan peran sederhana bukan alasan untuk merasa hina. Kita semua adalah satu rantai kebaikan yang saling melengkapi,” tegas Rofiul.

Rofiul menekankan ukuran nilai seseorang di hadapan Allah bukan posisi sosial yang dimiliki, melainkan manfaat dan ketakwaan dalam kehidupan. Karena itu, jabatan tinggi tidak otomatis lebih mulia daripada pekerjaan sederhana yang dijalankan dengan amanah.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *