Sulseltimes.com, Jakarta, Kamis, Mei 21, 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk 3,54% ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Tekanan jual besar-besaran terjadi hampir sepanjang hari. Sebanyak 700 saham ditutup melemah, sementara hanya 91 saham menguat.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turun menjadi Rp10.553 triliun. Nilai transaksi mencapai Rp18,03 triliun dengan volume perdagangan 33,45 miliar saham dan frekuensi 2,11 juta kali.
- IHSG ditutup turun 3,54% ke 6.094,94
- 700 saham melemah, 91 menguat
- Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi
- Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026
- Tekanan jual dipicu respons investor terhadap kebijakan sentralisasi ekspor SDA melalui Danantara
IHSG Rontok
IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.378,81 sebelum terus tertekan hingga titik terendah 6.080,95. Koreksi ini membuat IHSG kehilangan 223,56 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.318,50.
Seluruh sektor berada di zona merah. Sektor utilitas menjadi yang paling dalam koreksinya, mencapai 7,80%. Disusul sektor energi 6,87% dan bahan baku 6,09%.
Saham PT Astra International Tbk (ASII) menjadi penekan terbesar IHSG dengan kontribusi negatif 14,96 poin. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menekan 14,26 poin, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) 11,52 poin, dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 11,21 poin.
Di sisi lain, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi penopang terbesar dengan kontribusi positif 2,13 poin. Disusul PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) 1,42 poin, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) 1,34 poin, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) 1,26 poin.
Mayoritas bursa Asia-Pasifik justru bergerak menguat. Kospi Korea Selatan melonjak 8,42%, Nikkei Jepang naik 3,14%, dan bursa Taiwan naik 3,37%. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 1,03% dan Shanghai Composite melemah 2,04%.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan penyebab pelemahan IHSG kali ini berbeda dengan sebelumnya yang berasal dari sentimen penyesuaian MSCI. Menurutnya, berbagai perkembangan informasi kebijakan global dan domestik turut berdampak langsung maupun tidak langsung pada persepsi kinerja emiten.
Hasan menjelaskan satu penyebab koreksi IHSG juga berasal dari respons investor terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto. Presiden menyatakan penjualan seluruh hasil sumber daya alam Indonesia, mulai dari minyak kelapa sawit, batu bara, dan besi fero alloy, wajib dilakukan melalui BUMN PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
“Saya kira pasti ya, artinya itu pasti direspons secara jangka pendek,” kata Hasan saat ditemui di gedung DPR RI Jakarta, Kamis, Mei 21, 2026.
Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menekankan bahwa investasi di pasar modal bersifat jangka panjang. “Kemarin waktu ada kunjungan dari DPR dan Danantara ke sini kan, juga sudah disampaikan pesan bahwa investasi di pasar modal adalah investasi jangka panjang,” kata Jeffrey di Gedung BEI, Kamis, Mei 21, 2026.
Ia mengatakan fundamental ekonomi Indonesia ke depan akan semakin baik. Presiden Prabowo juga bertekad memberikan kemudahan usaha dengan durasi perizinan yang dari dua tahun menjadi hitungan minggu.
“Tentu itu akan memberikan efek positif kepada perekonomian dan nanti tentunya implikasinya kepada pasar modal dalam waktu jangka menengah panjang kita. Jadi kami sih positif,” tutur Jeffrey.
Koreksi IHSG ke level 6.000-an menandai tekanan terbesar dalam beberapa waktu terakhir. Sentimen kebijakan domestik, terutama sentralisasi ekspor sumber daya alam melalui Danantara, menjadi pemicu utama aksi jual investor jangka pendek.
OJK dan BEI optimistis fundamental ekonomi dalam negeri masih kuat dalam jangka panjang. Namun, volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut seiring penyesuaian pasar terhadap kebijakan baru.














