Sulseltimes.com, Jakarta, Kamis, 05/11/2026 — GOTO membatalkan program saham tresuri dan buyback, langkah yang diharapkan memberi keuntungan langsung kepada pemegang saham.
- GOTO membatalkan saham tresuri dan buyback, disetujui dalam RUPSLB pada Kamis, 05/11/2026, dan saham tersebut akan dihapus dari jumlah saham yang diterbitkan.
- Pembatalan membuat pengurangan saham bersifat permanen, menghilangkan kemungkinan saham kembali ke pasar dan mengurangi potensi overhang di masa depan.
- Saham GOTO saat ini diperdagangkan dengan diskon sekitar 75% terhadap perusahaan sejenis (EV/EBITDA 3,3x vs rata-rata 13‑14x).
- GOTO membukukan laba bersih Rp441 miliar di kuartal III‑2026, melanjutkan tren profitabilitas selama tiga kuartal beruntun.
- Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis mengatakan, manfaat bagi investor adalah kenaikan persentase kepemilikan karena total saham berkurang, sementara fundamental perusahaan membaik.
Dampak terhadap investor
Pembatalan tersebut telah mendapat persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB pada Kamis, 05/11/2026 dan akan diselesaikan setelah proses yang dipersyaratkan terpenuhi. Setelah dibatalkan, saham treasuri itu dihapus dari jumlah saham yang diterbitkan.
Bagi investor, manfaatnya konkret. Jumlah saham yang mereka pegang tetap sama, tetapi persentase kepemilikannya terhadap total saham naik karena jumlah saham perusahaan berkurang. Ini dilakukan saat GOTO sudah cetak laba bersih, kata Abdul Azis, Analis Kiwoom Sekuritas, seperti dikutip Kamis, 05/11/2026.
Buyback sebelumnya telah mengurangi saham yang beredar di publik, sementara pembatalan membuat pengurangan itu permanen. Dengan menghapus saham treasuri, perusahaan menghilangkan kemungkinan saham tersebut kembali menjadi pasokan di pasar, sehingga mengurangi potensi overhang di masa depan sekaligus mempertahankan manfaat kepemilikan dari buyback.
Saham GOTO saat ini diperdagangkan dengan diskon sekitar 75% terhadap perusahaan sejenis dilihat dari pendekatan valuasi nilai perusahaan terhadap EBITDA atau EV/EBITDA. Saham GOTO diperdagangkan di 3,3x EV/EBITDA sedangkan rata-rata perusahaan ODS & Fintech peers di 13‑14x EV/EBITDA. Harga di pasar saat ini memang belum sepenuhnya mencerminkan perubahan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan kas, kata analis.
GOTO membukukan laba bersih Rp441 miliar di kuartal III‑2026, memperpanjang tren profitabilitas di tengah tantangan pada sebagian bisnisnya. Kinerja Fintech GoPay menjadi penopang laba di tengah tekanan yang dihadapi On‑demand Services (ODS) Gojek.
“Hasil ini dicapai di tengah berbagai tantangan dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo.
Keterhubungan layanan transportasi, pengantaran, pembayaran, dan keuangan menjadi kekuatan fundamental jangka panjang GOTO. Ekosistem tersebut membuka peluang meningkatkan frekuensi transaksi dan penggunaan lintas layanan, dengan keberlanjutan pertumbuhan tetap bergantung pada disiplin biaya, persaingan, serta pengelolaan risiko kredit.
Keberlanjutan laba menjadi dasar bagi peluang penilaian ulang saham GOTO, sementara pembatalan saham treasuri mempermanenkan manfaat kepemilikan dari buyback. Kombinasi tersebut memperkuat alasan untuk mencermati kesenjangan antara valuasi dan fundamental, meski waktu serta besarnya penyesuaian harga tetap bergantung pada kondisi pasar.
Polisi masih mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam perkara tersebut.













