Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 29/08/2026 — Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengejutkan pasar dengan sinyal bahwa The Fed masih melihat risiko inflasi serius dan berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
- Kevin Warsh sinyal The Fed mungkin naikkan suku bunga
- Peluang kenaikan September naik jadi 58%
- Pasar obligasi bereaksi, saham relatif tenang
- Kutipan George Catrambone DWS dan Tony Parish Alphastar
- Risiko kredibilitas vs pelemahan ekonomi
Pernyataan Warsh yang dilansir The Wall Street Journal menyebut The Fed mungkin perlu “berusaha lebih keras” mengendalikan inflasi. Hal itu langsung mengerek imbal hasil obligasi Treasury jangka pendek dan membuat pasar memperhitungkan kenaikan suku bunga.
Berdasarkan data CME Group, kontrak berjangka kini mencerminkan peluang sekitar 58% The Fed menaikkan suku bunga bulan depan. Angka itu melonjak dari sekitar 35% periode sebelumnya.
Sinyal tersebut meredakan kekhawatiran pasar soal kemungkinan Warsh enggan menaikkan bunga akibat tekanan Presiden Donald Trump. Kekhawatiran itu sebelumnya mendorong kenaikan yield Treasury jangka panjang.
Namun, sejumlah investor menilai pernyataan Warsh justru memasukkan The Fed ke posisi sulit. Pasar kini bisa menekan bank sentral menaikkan bunga meski ekonomi belum tentu membutuhkannya.
“Pada dasarnya Anda telah memberi sinyal kepada pasar bahwa The Fed kurang lebih akan menaikkan suku bunga. Saya hanya tidak yakin bahwa ketika data masuk, hal itu akan terjadi,” kata Kepala Divisi Pendapatan Tetap Amerika di DWS George Catrambone, Sabtu, 29/08/2026.
Menurut Catrambone, kenaikan bunga berpotensi menekan perekonomian saat konsumen mulai melemah. Sebaliknya, jika The Fed tidak naikkan bunga, obligasi jangka panjang berisiko dijual karena investor mempertanyakan kredibilitas Warsh soal inflasi.
Pasar Saham Relatif Tenang
Respons pasar saham terhadap pernyataan Warsh terbilang terbatas. Dow Jones Industrial Average turun kurang dari 0,1%, S&P 500 melemah 0,2%, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,5%.
Pergerakan ini jauh lebih moderat dibandingkan reaksi setelah dua penampilan Warsh sebelumnya pada rapat Juni dan Juli. Gejolak justru lebih terasa di pasar obligasi.
Setelah rapat Juli, yield Treasury 30 tahun sempat menyentuh 5,3%, level tertinggi sejak 2007. Kondisi itu mendorong Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana menggandakan pembelian obligasi jangka panjang via program buyback.
Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan program itu ditujukan menekan yield jangka panjang yang dinilai tidak mencerminkan fundamental ekonomi. Langkah itu mulai berdampak, yield 30 tahun turun ke 5,207% dari 5,266%.
Namun, yield Treasury 10 tahun justru naik jadi 4,721% dari 4,671%. Yield obligasi bergerak berlawanan dengan harga dan mencerminkan ekspektasi arah suku bunga The Fed.
Pasar Masih Menebak Arah The Fed
Tekanan terlihat pada saham sensitif ekonomi. Indeks Russell 2000 turun 1,4%, sektor industri S&P 500 melemah 1%.
Kepala Investasi Alphastar Capital Management Tony Parish menilai Warsh membiarkan arah kebijakan terbuka. “Warsh meninggalkan banyak hal dalam ketidakpastian. Jika ada perubahan dalam kepastian, itu mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga yang tidak disukai pasar,” kata Parish, Sabtu, 29/08/2026.
Investor saham sejauh ini mengabaikan gejolak obligisi dan fokus pada musim laporan keuangan serta kinerja Nvidia yang meredakan kekhawatiran permintaan chip AI. S&P 500 kini hanya sekitar 1% dari level tertinggi sepanjang masa.
September historis bergejolak bagi pasar saham. Dengan pertemuan The Fed berikutnya dijadwalkan bulan depan, investor menunggu data ekonomi terbaru.
Kepala Strategi Makro LPL Financial Kristian Kerr mengatakan pernyataan Warsh belum memberi kepastian. “Masih ada unsur mencoba memahami (Warsh). Itu akan berlanjut untuk sementara waktu,” kata Kerr, Sabtu, 29/08/2026.














