Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, 16/08/2026 — Mitos tuyul yang dipercaya tak pernah mencuri uang di bank justru berakar pada kesenjangan sosial akibat kebijakan liberalisasi ekonomi Belanda pada 1870.
- Mitos tuyul tak curi bank berakar sejarah kolonial
- Kebijakan liberalisasi 1870 menciptakan kesenjangan
- Suwardi Endraswara, Van Zanden, Ong Hok Ham, George Quinn
- Jawa, era kolonial 1870-an
- Narasi budaya melanggengkan hingga kini
Dalam kepercayaan rakyat, tuyul dikenal sebagai makhluk halus yang mencuri uang dan barang berharga dari rumah ke rumah. Budayawan Suwardi Endraswara dalam buku Dunia Hantu Orang Jawa (2004) mencatat aktivitas tuyul terbatas pada pencurian antar rumah tangga, tidak melibatkan institusi perbankan.
Belum pernah tercatat kasus bank kehilangan dana akibat pencurian tuyul. Penjelasan mistis seperti ketakutan tuyul pada logam atau adanya penjaga gaib di bank hanyalah dugaan tanpa dasar logis. Di balik cerita itu tersimpan alasan sejarah dan sosiologis yang mengikat.
Akar Sejarah Mitos Tuyul di Era Kolonial
Menurut Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), kebijakan pintu terbuka yang diresmikan Belanda pada 1870 menggantikan sistem tanam paksa. Kebijakan itu justru melahirkan pengambilalihan perkebunan rakyat untuk perkebunan besar dan pabrik gula.
Para petani kecil di Jawa semakin terperosok kemiskinan karena kehilangan kuasa atas lahan. Di sisi lain, pedagang pribumi dan Tionghoa tiba-tiba menjadi kaya baru. Kenaikan kekayaan mendadak itu menimbulkan keheranan dan iri hati di kalangan petani yang hidup subsisten.
Iri Hati dan Tuduhan Supranatural
Berdasarkan catatan Ong Hok Ham dalam Wahyu yang Hilang Negeri Yang Guncang (2019), petani menganut sistem subsisten dan memandang pemupukan kekayaan harus melalui proses terbuka yang terlihat mata. Mereka tak melihat kerja keras orang kaya baru tersebut.
George Quinn dalam An Excursion to Java’s Get Rich Quick Tree (2009) menambahkan, petani beranggapan kedatangan kekayaan harus dipertanggungjawabkan. Ketika gagal dibuktikan, tuduhan pencurian dengan bantuan makhluk supranatural seperti tuyul pun muncul.
Ong Hok Ham dalam Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong (2002) menulis, tuduhan itu membuat orang kaya baru kehilangan status sosial dan dianggap hina. Akibatnya, mereka cenderung menyembunyikan kekayaan atau membeli aset yang tidak menonjolkan kekayaan agar terhindar label memelihara tuyul.
Dinamika sejarah itulah yang melanggengkan imajinasi tuyul sebagai penjelasan mitos atas ketidakadilan ekonomi. Mitos itu bertahan hingga kini di tengah masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup secara agraris.











