Sulseltimes.com, Bone, Kamis, 13/08/2026 — Tim dosen Universitas Indonesia Timur (UIT) memberdayakan petani kakao di Kabupaten Bone melalui pelatihan sanitasi kebun dan pengolahan biomassa menjadi pupuk organik cair.
- Tim UIT memberdayakan Kelompok Tani Wangi-Wangi 2 di Desa Tonronge
- Program PMP BIMA Kemendikti Saintek TA 2026
- Pelatihan sanitasi, pemangkasan, dan pembuatan POC
- Peningkatan keterampilan 70 persen, penurunan busuk buah 20 persen
- Penyerahan alat teknologi tepat guna untuk keberlanjutan
Kegiatan Program Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) bertajuk “Peningkatan Inovasi Petani Kecil Melalui Teknik Sanitasi dan Pemanfaatan Biomassa Agroforestry Kakao” digelar di Dusun Lekke, Desa Tonronge, Kecamatan Lappariaja. Program ini didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema BIMA Pengabdian kepada Masyarakat Pemula tahun anggaran 2026.
Tim pelaksana diketuai Wahyullah, dosen Program Studi Kehutanan UIT, didampingi Harlina dari UIT dan Herawaty dari Universitas Islam Makassar serta dua mahasiswa Kehutanan UIT. Sasarannya adalah delapan anggota Kelompok Tani Wangi-Wangi 2.
Pelatihan Sanitasi dan Pengolahan Biomassa
Permasalahan utama yang dihadapi petani adalah rendahnya pengetahuan sanitasi kebun yang memicu tingginya serangan penyakit busuk buah. Limbah biomassa pemangkasan juga belum dimanfaatkan optimal.
Tim memberikan pelatihan dan pendampingan mencakup sanitasi kebun dan teknik pemangkasan untuk menekan hama penyakit. Pelatihan juga mencakup pemangkasan pohon penaung pada sistem agroforestri serta pengolahan biomassa menjadi pupuk organik cair (POC) berbasis lokal menggunakan EM4 dan gula merah sebagai starter fermentasi.
Hasil Capaian dan Penyerahan Alat
Program ini mencatat peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam sanitasi kebun sebesar 70 persen. Intensitas serangan busuk buah kakao turun minimal 20 persen. Petani kini terampil memproduksi pupuk organik cair siap pakai dari biomassa kebun sendiri.
Untuk mendukung keberlanjutan, tim menyerahkan alat teknologi tepat guna berupa mesin pencacah biomassa, gerobak angkut, gergaji dahan, gunting pruning, parang, cangkul, dan drum fermentasi kapasitas 150 liter.
“Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas dan mutu kakao, tetapi juga menekan biaya produksi serta memperkuat kemandirian dan inovasi kelompok tani,” kata Wahyullah, Ketua Tim Pelaksana PMP UIT, Kamis, 13/08/2026.
Kegiatan ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terkait tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, konsumsi produksi bertanggung jawab, dan penanganan perubahan iklim. Program juga mendukung Asta Cita pembangunan desa, ekonomi hijau, serta Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) bidang ketahanan pangan. Tim UIT berharap model agroforestri kakao di Desa Tonronge dapat direplikasi oleh kelompok tani lain di Sulawesi Selatan.









