Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, 06/07/2026 — Investor pasar keuangan Indonesia terus mewaspadai dampak sentimen domestik dan global terhadap pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah, terutama setelah data inflasi naik dan neraca dagang defisit.
- Inflasi naik
- Neraca dagang defisit
- PMI Manufaktur kontraksi 46,9
- IHSG dan rupiah tertekan
- Dimas Yusuf, Investment Director Sucor Asset Management
- Analisis valuasi menarik
Dinamika Pasar Keuangan Indonesia
Pergerakan IHSG dan rupiah masih berada dalam tekanan sejumlah faktor.
Dari eksternal, perkembangan perang Timur Tengah dan kenaikan harga minyak serta komoditas menjadi perhatian utama.
Dari dalam negeri, data makro ekonomi seperti inflasi, defisit neraca dagang, dan kontraksi PMI Manufaktur ke 46,9 ikut mempengaruhi sentimen pelaku pasar.
Analisis Investment Director
Investment Director Sucor Asset Management, Dimas Yusuf, menyebutkan bahwa data ekonomi domestik saat ini tidak terlalu menjadi kekhawatiran pasar.
Koreksi yang terjadi sudah cukup dalam dan valuasi sudah sangat menarik.
“Seiring dengan membaiknya harga minyak dunia, diharapkan kondisi neraca dagang Indonesia akan membaik,” kata Dimas Yusuf, Senin, 06/07/2026.
Prospek IHSG dan Rupiah
Pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan global dan domestik.
Meskipun ada tekanan, valuasi yang menarik bisa menjadi peluang bagi investor jangka panjang.
Analisis selengkapnya dapat disimak dalam program Power Lunch CNBC Indonesia.
Kesimpulan Sementara
Pergerakan IHSG dan rupiah ke depan akan sangat tergantung pada data ekonomi selanjutnya serta situasi geopolitik global.









