Sulseltimes.com, Jakarta, Selasa, Juni 2, 2026 — Nilai tukar rupiah berhasil menguat 0,2% ke level Rp17.830 per dolar AS pada awal perdagangan bulan ini, mematahkan tren pelemahan dalam lima hari beruntun.
- Rupiah menguat 0,2% ke Rp17.830/US$
- Mematahkan tren pelemahan lima hari beruntun
- Bank Indonesia mengetatkan aturan pembelian dolar AS tanpa dokumen underlying
- Indeks dolar AS (DXY) melemah 0,12% ke 99,081
- Surplus neraca perdagangan April 2026 susut menjadi US$90 juta
Penguatan Rupiah di Tengah Volatilitas Pasar
Sepanjang hari perdagangan, rupiah bergerak fluktuatif.
Mata uang Garuda sempat dibuka menguat 0,08% di Rp17.850/US$, lalu tertekan hingga Rp17.892/US$, sebelum akhirnya berbalik menguat hingga penutupan.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia melemah 0,12% ke posisi 99,081.
Kebijakan Bank Indonesia dan Dampaknya
Bank Indonesia terus mengkalibrasi instrumen kebijakan di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 7 Tahun 2026, batas transaksi pembelian dolar AS tanpa dokumen underlying diturunkan dari US$100.000 menjadi US$50.000 per April 2026.
Batas tersebut kembali dipersempit menjadi US$25.000 per pelaku per bulan yang mulai berlaku awal Juni 2026.
Di sisi derivatif, batas transaksi forward jual dan swap tanpa underlying ditingkatkan menjadi US$10 juta per transaksi.
Pelaku pasar juga didorong memanfaatkan skema Local Currency Transaction (LCT). Hingga April 2026, volume transaksi LCT mencapai US$22,61 miliar.
Surplus Perdagangan Menyusut
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya US$90 juta, turun jauh dari posisi Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar.
Penyusutan surplus terjadi di tengah lonjakan impor sebesar 22,49% menjadi US$25,21 miliar.
Sementara itu, ekspor masih lebih besar dengan nilai US$25,30 miliar, meski pertumbuhannya lebih rendah, yakni 21,98%.
Sentimen Eksternal Turut Mendukung
Pelemahan dolar AS di pasar global membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Kondisi ini membuat tekanan terhadap rupiah sedikit mereda pada akhir perdagangan hari ini.















