Sulseltimes.com, Makassar, Selasa, Juni 2, 2026 — Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam empat dekade, memicu kekhawatiran investor terhadap risiko fiskal dan rencana anggaran tambahan senilai 3 triliun yen.
- Yield obligasi 10 tahun Jepang 2,809%
- Anggaran tambahan 3 triliun yen
- PM Sanae Takaichi, Jesper Koll
- Jepang, 2 Juni 2026
- Investor khawatir risiko fiskal dan inflasi
Lonjakan Imbal Hasil Obligasi
Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun sempat naik ke 2,809% pada 20 Mei lalu.
Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1996.
Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun menembus 4%.
Angka ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap risiko fiskal dan tekanan inflasi yang terus meningkat.
Penyebab Kekhawatiran Pasar
Pemicu utama adalah rencana Perdana Menteri Sanae Takaichi menyiapkan anggaran tambahan sebesar 3 triliun yen atau sekitar US$19 miliar.
Dana tersebut akan digunakan untuk menambah cadangan fiskal serta mendanai subsidi bahan bakar dan utilitas.
Langkah ini justru memicu skeptisisme pasar terkait janji pemerintah untuk tidak menambah total penerbitan obligasi sepanjang 2026.
Reaksi Analis
“Pasar obligasi adalah banyak hal, tetapi mereka tidak bodoh,” kata Direktur Ahli Monex Group, Jesper Koll, Selasa, Juni 2, 2026.
“Anda tidak dapat meningkatkan pengeluaran tanpa meningkatkan utang,” tambahnya.
Kekhawatiran juga muncul setelah Takaichi menggunakan acuan tahun kalender 2026 dalam menjelaskan target penerbitan obligasi.
Menurut analis, pendekatan itu tidak lazim karena Jepang selama ini menggunakan tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret.
“Tidak ada seorang pun di Jepang yang pernah membuat kebijakan berdasarkan tahun kalender,” kata Koll.
“Jika ada tanda bahaya, itu adalah tanda bahaya,” ujarnya.
Pengamat riset ekuitas untuk Asia di Julius Baer, Louis Chua, juga menyoroti ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
“Perkembangan terkini, termasuk ketidakpastian yang berkelanjutan di Timur Tengah, harga komoditas yang tinggi, dan pengeluaran subsidi bahan bakar yang meningkat, telah berkontribusi pada kekhawatiran pasar obligasi tentang posisi fiskal Jepang tahun ini,” tegasnya.
Respons Pemerintah dan Prospek Ekonomi
Ekonom APAC State Street Investment Management, Krishna Bhimavarapu, menilai langkah pemerintah tetap sejalan dengan pendekatan fiskal Takaichi yang hati-hati.
“Anggaran tambahan tersebut tampak kurang seperti stimulus luas dan lebih seperti bantalan yang ditargetkan untuk rumah tangga yang menghadapi tekanan harga yang didorong oleh energi yang terkait dengan konflik Iran,” ujarnya.
Data terbaru menunjukkan perbaikan ekonomi Jepang.
Ekonomi tumbuh pada laju tahunan 2,1% pada kuartal pertama, dengan PDB riil naik 0,5% dari kuartal sebelumnya.
Ekspor naik 14,8% pada bulan April dibandingkan tahun sebelumnya, didukung oleh pengiriman semikonduktor yang kuat dan permintaan terkait AI.
Kekhawatiran Investor ke Depan
Bagi investor, perhatian kini tertuju pada risiko inflasi dan potensi kenaikan suku bunga Bank of Japan.
Kemungkinan tambahan pasokan obligasi juga dapat semakin menekan pasar surat utang Jepang.
Kondisi ini membuat pasar obligasi Jepang berada dalam tekanan yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir.














