Bisnis

3 Jurus Habibie Turunkan Dolar AS dari Rp16.000 ke Rp6.550

Avatar of Sulsel Times
0
×

3 Jurus Habibie Turunkan Dolar AS dari Rp16.000 ke Rp6.550

Sebarkan artikel ini
3 Jurus Habibie Turunkan Dolar AS dari Rp16.000 ke Rp6.550
3 Jurus Habibie Turunkan Dolar AS dari Rp16.000 ke Rp6.550. Doc ist.
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, Mei 18, 2026 — Nilai tukar rupiah yang terus melemah menjadi sorotan, mengingatkan pada krisis 1998 ketika dolar AS sempat menyentuh Rp16.800. Namun, Presiden B.J. Habibie berhasil membalikkan situasi dan membawa kurs ke level Rp6.550 melalui tiga langkah strategis. Keberhasilan ini menepis keraguan banyak pihak, termasuk kritikus yang meragukan kemampuan teknokrat asal Parepare itu.

Ringkasnya…
  • Habibie turunkan dolar dari Rp16.000 ke Rp6.550
  • Tiga strategi: restrukturisasi bank, moneter ketat, kendali harga
  • Krisis 1998 sempat sentuh Rp16.800
  • Kebijakan BI independen lewat UU No.23/1999
  • Kepercayaan pasar pulih dan investor kembali
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

“Ketika terjadi masa krisis saat B.J. Habibie diangkat menjadi presiden, ia menganjurkan rakyat melakukan puasa Senin-Kamis,” kata A. Makmur Makka, penulis biografi Inspirasi Habibie, Senin, Mei 18, 2026.

Anjuran itu hanyalah salah satu dari serangkaian kebijakan nonkonvensional yang ia terapkan. Tiga jurus utama Habibie adalah restrukturisasi perbankan, kebijakan moneter ketat, dan pengendalian harga bahan pokok.

Strategi Habibie Mengatasi Krisis Rupiah

Pada masa Orde Baru, kemudahan pendirian bank lewat Paket Oktober 1988 justru memicu krisis perbankan. Banyak bank tumbang saat krisis melanda, dan nasabah melakukan penarikan besar-besaran.

Habibie merespons dengan merestrukturisasi perbankan, termasuk menggabungkan empat bank pemerintah menjadi Bank Mandiri. Langkah ini bertujuan memperkuat fundamental perbankan nasional.

Tak hanya itu, Habibie mendorong independensi Bank Indonesia melalui UU No. 23 Tahun 1999. Dalam otobiografinya, Detik-detik yang Menentukan (2006), ia menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah terbaik menguatkan rupiah. “BI harus independen, objektif, dan bebas dari intervensi politik,” tulis Habibie.

Kebijakan moneter ketat juga diterapkan dengan menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berbunga tinggi. Suku bunga yang awalnya 60% berhasil ditekan menjadi belasan persen, mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap bank.

Habibie juga menjaga stabilitas harga bahan pokok dengan mempertahankan harga listrik dan BBM subsidi. Meski menuai kontroversi, langkah ini dianggap vital agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah krisis.

Alhasil, kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia meningkat. Aliran dana investor kembali masuk, dan nilai tukar rupiah terkendali hingga ke level Rp6.550 per dolar AS.

Kesimpulannya, kombinasi restrukturisasi perbankan, kebijakan moneter ketat, dan pengendalian harga mampu memulihkan ekonomi Indonesia dalam waktu relatif singkat.

Keberhasilan Habibie membuktikan bahwa pemimpin non-ekonomi pun dapat mengatasi krisis moneter dengan langkah berani dan terukur.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *