Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, Mei 16, 2026 — Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden Prabowo Subianto, bersama ekonom Soerachman Tjokroadisurjo menjadi tokoh di balik berdirinya Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai bank pertama di Indonesia. Gagasan ini muncul tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan, saat keduanya sepakat Indonesia membutuhkan bank sentral sendiri. BNI resmi didirikan pada 1946 berdasarkan Perpu No.2 tahun 1946, dan berperan sebagai ujung tombak perang ekonomi melawan De Javasche Bank milik Belanda.
- Margono Djojohadikusumo dan Soerachman Tjokroadisurjo menggagas bank pertama Indonesia
- Margono adalah kakek Presiden Prabowo Subianto
- BNI didirikan sebagai bank sentral pada 1946
- BNI menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) untuk melawan uang NICA Belanda
- Status BNI sebagai bank sentral dicabut pada 1968, berubah menjadi bank BUMN
Latar Belakang Gagasan Pendirian Bank Nasional
Setelah kemerdekaan, Indonesia belum memiliki institusi keuangan yang benar-benar milik bangsa. Margono Djojohadikusumo yang saat itu menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Agung meyakini bank sentral harus dibangun dari kekuatan sendiri, bukan melanjutkan warisan kolonial. Di sisi lain, Soerachman menilai cukup menghidupkan kembali De Javasche Bank (DJB) yang sudah berpengalaman mengelola sistem keuangan.
Perdebatan ini memanas ketika Belanda kembali datang dan berupaya menghidupkan DJB sebagai bank sentral. “Belanda ingin menghidupkan kembali DJB sebagai bank sentral,” tulis penyusun buku Semarang Sebagai Simpul Ekonomi, Sabtu, Mei 16, 2026. Langkah Belanda itu dinilai mengancam kedaulatan ekonomi Indonesia.
Perjalanan BNI dari Bank Sentral hingga Bank BUMN
Margono dikabarkan telah mendapat restu dari Sukarno dan Hatta sejak September 1945. Ia kemudian mengurusi yayasan perbankan bernama Yayasan Poesat Bank Indonesia. Akhirnya, pemerintah resmi mendirikan Bank Negara Indonesia pada 1946 melalui Perpu No.2 tahun 1946. BNI tidak hanya berfungsi sebagai bank sentral, tetapi juga melakukan kegiatan bank umum seperti pemberian kredit dan penerimaan simpanan.
Modal awal BNI berasal dari patungan rakyat. Margono sendiri menjadi pemimpin pertama BNI. Pada masa itu, BNI harus bertempur melawan DJB dalam perang mata uang dengan menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) untuk menyaingi uang NICA buatan Belanda.
Setelah perang berakhir pada 1949, BNI mulai aktif kembali. Namun, pada 1953 pemerintah mengambil alih DJB dan mengubahnya menjadi Bank Indonesia yang kemudian ditugasi sebagai bank sentral. Puncaknya, pada 1968 status BNI sebagai bank sentral resmi dicabut dan diubah menjadi bank pelat merah.
Dengan demikian, BNI yang kini menjadi bank BUMN ternyata memiliki sejarah panjang sebagai bank sentral pertama Indonesia, yang gagasannya dirintis oleh kakek Presiden Prabowo Subianto.







