Sulseltimes.com, Jakarta, Jumat, 15/05/2026 — Konglomerat Indonesia Prajogo Pangestu mengalami penyusutan kekayaan signifikan dalam sehari perdagangan. Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires per Jumat, 15/05/2026, harta Prajogo turun US$1,8 miliar atau sekitar Rp31,5 triliun (asumsi kurs Rp17.500/US$) dalam 1×24 jam.
- Penyusutan harta US$1,8 miliar atau Rp31,5 triliun dalam sehari
- Penyebab: MSCI keluarkan tiga saham Grup Barito (BREN, TPIA, CUAN)
- Data dari Forbes Real Time Billionaires per 15/05/2026
- Kekayaan Prajogo masih tertinggi di Indonesia, US$18,6 miliar
- Penurunan terjadi di tengah ekspansi besar Grup Barito ke petrokimia dan energi hijau
Penurunan ini dipicu oleh pengumuman MSCI yang mengeluarkan saham Grup Barito dari indeks bergengsi tersebut, yaitu BREN, TPIA, dan CUAN.
Lonjakan Penurunan dalam Sehari dan Dampak ke IHSG
Sejumlah enam saham milik Prajogo kompak berakhir di zona merah, yaitu Barito Renewables Energy (BREN), Chandra Daya Investasi (CDIA), Petrosea (PTRO), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), Barito Pacific (BRPT), dan Chandra Asri Pacific (TPIA).
Ambruknya saham-saham Grup Barito turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok nyaris 2% dan turun ke level 6.700-an.
“Saham-saham Prajogo menjadi salah satu dari 10 emiten yang paling membebani kinerja IHSG pada perdagangan hari ini,” kata data Bursa Efek Indonesia yang dikutip oleh tim riset Sulseltimes.com.
Perjalanan Bisnis dan Penurunan Kekayaan Jangka Panjang
Harta Prajogo tercatat dalam trajektori penurunan signifikan sejak puncaknya pada Mei 2024, yang sempat menembus US$70 miliar atau setara Rp1.200 triliun.
Kini kekayaannya hanya tercatat US$18,6 miliar, artinya lenyap lebih dari Rp875 triliun dalam dua tahun.
Meski begitu, Prajogo masih menjadi orang terkaya di Indonesia, mengungguli Low Tuck Kwong, R. Budi Hartono, dan Anthoni Salim.
Forbes mencatat, pengusaha berusia 82 tahun ini memulai bisnis dari nol di industri kayu pada akhir 1970-an, kemudian merambah petrokimia lewat Barito Pacific yang mengakuisisi Chandra Asri pada 2007, lalu berekspansi ke tambang batu bara (Petrindo Jaya Kreasi), energi terbarukan (Barito Renewables), dan proyek tenaga angin bersama keluarga Zobel de Ayala.
Dalam perkembangan terbaru, Chandra Asri memperoleh pendanaan US$750 juta dari KKR untuk akuisisi aset Esso Singapore, dan bersama Glencore menyelesaikan pembelian aset Shell di Singapura pada April 2025.












