Sulseltimes.com, Makassar, Kamis, 20/08/2026 — Serangan siber otonom berbasis kecerdasan buatan (AI) pertama kali terdeteksi menyasar pemerintah Taiwan, membobol 85 akun dan mencuri lebih dari 2.500 data pegawai dalam empat hari.
- Serangan AI otonom pertama di dunia menarget Taiwan
- 85 akun pemerintah dibobol, 2.500 data pegawai dicuri
- Ditemukan perusahaan keamanan Dream, dilaporkan Financial Times
- Berlangsung empat hari, menyebar ke pengawas nuklir dan tujuh perusahaan energi
- AI memadukan kelemahan umum tanpa zero-day, diduga berasal dari China daratan
Penemuan ini diungkapkan oleh perusahaan keamanan siber asal Israel, Dream, dan pertama kali dilaporkan Financial Times pekan lalu.
Menurut laporan tersebut, ini adalah serangan AI otonom pertama di dunia yang mampu menjalankan rangkaian peretasan dari awal hingga akhir dengan campur tangan manusia sangat minim.
AI Jalankan Serangan Secara Otonom
Serangan berlangsung sekitar empat hari dan memanfaatkan delapan model AI open source yang bekerja secara bersamaan.
Dream menemukan arsip daring berukuran 160 MB berisi 1.395 file yang mencatat penggunaan agen AI open source Hermes dan OpenClaw.
Agen-agen tersebut mencari target, menemukan kelemahan sistem, mencoba masuk, dan mencari cara lain ketika gagal. Seiring waktu, jumlah agen bertambah menjadi delapan dan bekerja paralel untuk mempercepat serangan.
Pelaku menyamarkan aktivitas sebagai pengujian keamanan agar AI tidak menolak menjalankan tugas.
Memadukan Kelemahan Umum Tanpa Zero-Day
Serangan ini tidak bergantung pada celah keamanan baru atau zero-day. AI memanfaatkan kelemahan umum seperti sistem terbuka, kata sandi lemah, dan validasi akses yang lemah.
Kekuatan serangan terletak pada kemampuan AI menggabungkan berbagai kelemahan yang sudah ada dan mencoba berbagai cara otomatis untuk mendapatkan akses.
Petunjuk Arah ke Operator China Daratan
Dream belum mengaitkan serangan dengan kelompok peretas tertentu. Namun, catatan dalam arsip menggunakan karakter Mandarin Sederhana yang marak dipakai di China daratan, sedangkan data yang dicuri menggunakan Mandarin Tradisional khas Taiwan.
Dugaan ini diperkuat laporan National Security Bureau Taiwan yang mencatat sekitar 2,5 juta serangan siber dari China setiap hari sepanjang 2025.
Pemerintah China dan Taiwan belum memberikan pernyataan soal serangan AI otonom ini.
Ancaman Baru: AI Menghubungkan Tahapan Serangan
Senior Director of Solution Management Black Duck, Collin Hogue-Spears, menilai kasus ini menunjukkan hal mengkhawatirkan.
“Perbedaannya bukan pada cakupan serangan, karena pemindai otomatis sudah mampu menguji ribuan endpoint selama bertahun-tahun. Yang berubah adalah kemampuannya dalam menghubungkan berbagai tahapan serangan,” kata Hogue-Spears, Kamis, 20/08/2026.
Ia menjelaskan, AI mampu berpindah dari satu akun, sistem, atau jalur akses ke jalur lain saat menemukan hambatan.
“Jika sistem keamanan Anda mengasumsikan satu penyerang bekerja dari satu alamat dan melalui satu jalur pada satu waktu, berarti Anda keliru. Ini adalah serangan AI yang dilakukan secara paralel di delapan jalur yang berbeda,” imbuhnya.
Kasus Taiwan menandakan AI berkembang dari alat bantu peretas menjadi sistem yang menjalankan serangan siber secara mandiri. Ancaman semakin serius karena teknologi ini memanfaatkan model AI open source yang kode sumbernya terbuka dan dapat dikembangkan oleh siapa saja.









