Sulseltimes.com, Jakarta, Selasa, 12/05/2026 — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kesiapan pemerintah membantu Bank Indonesia menstabilkan nilai tukar rupiah yang pada Selasa ini tembus Rp 17.500 per dolar AS.
Purbaya mengatakan intervensi akan difokuskan di pasar surat berharga negara (bond market) melalui mekanisme Bond Stabilization Fund (BSF).
“Kami akan coba membantu nilai tukar, kami membantu BI lah sedikit-sedikit kalau bisa. Kami masih banyak uang nganggur, kami intervensi bond market supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi,” kata Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa, 12/05/2026.
- Rupiah melemah ke Rp 17.500 per dolar AS
- Intervensi melalui bond market dengan BSF
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
- Selasa, 12/05/2026 di Kantor Kemenkeu Jakarta Pusat
- Pemerintah masih memiliki banyak dana nganggur untuk intervensi
Narasi Utama: Intervensi Tidak Langsung Lewat Pasar Obligasi
Purbaya menjelaskan bahwa langkah intervensi nilai tukar tidak dilakukan secara langsung di pasar valas, melainkan melalui pengelolaan imbal hasil obligasi negara.
Dengan menjaga agar yield tidak naik terlalu tajam, pemerintah berharap tekanan terhadap rupiah bisa berkurang.
“Kami bantu BI dengan ikut menstabilkan bond market. Ini instrumen yang sudah ada, tinggal kami aktifkan,” ujarnya.
Mekanisme Bond Stabilization Fund (BSF) adalah dana yang disediakan pemerintah untuk membeli obligasi saat pasar mengalami tekanan, sehingga mencegah kenaikan yield yang berlebihan. Purbaya mengaku masih banyak dana menganggur yang bisa digunakan untuk keperluan ini, meski tidak merinci jumlah pastinya.
Rincian dan Dampak: Sinergi Fiskal-Moneter Diperkuat
Langkah ini merupakan bentuk sinergi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan untuk menahan pelemahan rupiah.
Dengan adanya intervensi dari sisi fiskal, tekanan di pasar obligasi diharapkan mereda, sehingga imbal hasil tidak memicu arus keluar modal asing.
Analis menilai bahwa pelemahan rupiah ke level Rp 17.500 dipicu oleh sentimen global, terutama kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi.
Pemerintah optimistis intervensi terkoordinasi akan efektif dalam jangka pendek. Ke depan, stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada data ekonomi domestik dan perkembangan kebijakan moneter global.
Pemerintah berkomitmen menjaga nilai tukar melalui instrumen fiskal, dengan memanfaatkan dana yang tersedia untuk intervensi pasar obligasi. Langkah ini diharapkan dapat meredam volatilitas rupiah dan memperkuat kepercayaan pasar.















