Sulseltimes.com, Jakarta — Nilai tukar rupiah melemah ke sekitar Rp17.920 per dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026.
- Rupiah diperdagangkan sekitar Rp17.920 per dolar AS pada 1 Oktober 2026
- IHSG dibuka di sekitar level 6.058
- Penguatan dolar AS menjadi salah satu tekanan eksternal
- Kenaikan harga minyak dapat menambah kebutuhan devisa
- Perbandingan dengan ringgit dan dolar Singapura perlu melihat kebijakan serta struktur ekonomi masing-masing
Pada waktu yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan dibuka di sekitar level 6.058 dan berada di zona merah.
Data tersebut merujuk pada kondisi pasar 1 Oktober, bukan pergerakan akhir pekan 3 Oktober ketika artikel sumber kembali ditayangkan.
Tekanan Eksternal
FX Analyst CNBC Indonesia Research Elvan Chandra Widyatama menilai penguatan dolar AS serta kenaikan harga minyak menjadi bagian dari tekanan terhadap rupiah.
Harga minyak yang lebih tinggi dapat menambah kebutuhan valuta asing bagi negara pengimpor energi.
Pergerakan mata uang juga dipengaruhi arus modal, ekspektasi suku bunga, inflasi, neraca transaksi berjalan, dan kebijakan bank sentral.
Perbandingan dengan Ringgit dan Dolar Singapura
Dalam pembahasannya, Elvan membandingkan rupiah dengan ringgit Malaysia dan dolar Singapura.
Perbandingan tersebut perlu mempertimbangkan perbedaan struktur perdagangan, cadangan devisa, kebijakan moneter, serta kedalaman pasar keuangan masing-masing negara.
Nilai tukar dapat berubah cepat sepanjang perdagangan. Angka Rp17.920 menggambarkan satu titik waktu pada 1 Oktober 2026 dan bukan kurs tetap.















