Sulseltimes.com, Jakarta, Jumat, 09/10/2026 — Bank Indonesia (BI) siap melakukan intervensi yang lebih agresif untuk menstabilkan rupiah jika tekanan dari pasar global semakin memengaruhi nilai mata uang asing di dalam negeri.
- Gubernur BI Destry Damayanti siap intervensi bold jika rupiah tertekan
- Tekanan global seperti ketegangan Timur Tengah dan harga minyak jadi sumber gejolak
- Rupiah berpotensi melemah jika dolar AS menguat kencang
- Domestik dinilai relatif terkendali dengan neraca perdagangan surplus US$3,3 miliar
- BI memantau pergerakan mata uang sejenis seperti peso Filipina dan baht Thailand
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan komitmennya untuk bertindak tegas demi menjaga stabilitas rupiah, terutama di tengah ketidakpastian global.
“Kalau memang perlu kami intervensi lebih bold, ya kami akan lakukan intervensi lebih bold,” kata Destry dalam program *Central Banking* CNBC Indonesia, dikutip Jumat, 09/10/2026. “Sekarang, sumber utama dari gejolak ini emang lebih di global.”
Desty menjelaskan bahwa ketegangan di Timur Tengah yang belum mereda serta potensi kenaikan harga minyak bisa menimbulkan tekanan kembali terhadap rupiah melalui penguatan dolar AS.
Namun, ia menegaskan kondisi domestik Indonesia relatif lebih terkendali. Salah satunya terlihat dari neraca perdagangan yang pernah mencatat surplus US$3,3 miliar, didorong oleh kenaikan harga komoditas dan ekspor yang meningkat.
“Di domestik kita relatif sudah lebih manageable,” ujar Destry. “Misalnya neraca perdagangan, kita sempat surplus hingga US$3,3 miliar. Ini lompatan besar, tapi sudah diperkirakan karena kenaikan harga komoditas.”
BI juga memantau dinamika mata uang negara-negara sejenis seperti peso Filipina dan baht Thailand untuk menilai apakah rupiah mengikuti tren atau menyimpang secara signifikan.
“Kita akhirnya melihat kondisi mata uang lain gimana? Misal peso Filipina gimana? Baht Thailand gimana? Jadi paling tidak negara yang kurang lebih karakternya sama dengan kita,” tambah Destry.
Dengan pendekatan yang observatif dan responsif, BI menegaskan siap bertindak cepat jika kondisi pasar memaksa.
BI masih memantau perkembangan global dan siap mengambil langkah sesuai dinamika pasar.
Sumber: CNBC Indonesia









