Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, 11/10/2026 — Pelaku pasar menilai volatilitas rupiah dipengaruhi oleh dinamika eksternal dan domestik, termasuk kenaikan harga komoditas dan isu reshuffle kabinet pemerintah Presiden Prabowo.
- Dimas Yusuf, Direktur Investasi Sucor Asset Management, memandang kenaikan harga batu bara dan CPO berdampak positif terhadap pendapatan Indonesia sebagai negara penghasil komoditas
- Dari hasil ekspor, kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) memperkuat cadangan devisa Indonesia
- Bank Indonesia tetap waspada terhadap penguatan dolar AS dan kebijakan suku bunga yang dapat melemahkan rupiah
- Isu reshuffle kabinet menjadi perhatian pasar meski dampaknya dianggap kecil; investor asing lebih fokus pada stabilitas politik dalam negeri
- Crysania Suhartanto mewawancarai Dimas Yusuf di program Squawk Box, CNBC Indonesia, untuk membahas sentimen ini
Direktur Investasi Sucor Asset Management, Dimas Yusuf, mengatakan kenaikan harga batu bara dan CPO memberikan dampak positif bagi pendapatan Indonesia. Menurutnya, kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang diterapkan otoritas turut memperkuat cadangan devisa nasional.
Namun, Bank Indonesia masih perlu memantau perkembangan kebijakan suku bunga dan penguatan indeks dolar AS yang dapat menekan nilai tukar rupiah. Kedua faktor eksternal ini menjadi perhatian utama di tengah gejolak pasar global.
Di dalam negeri, isu reshuffle kabinet pemerintahan Presiden Prabowo menjadi sorotan pelaku pasar. Meski demikian, dampak langsungnya dianggap terbatas karena investor asing lebih memperhatikan stabilitas politik dalam negeri.
Dalam wawancara program Squawk Box CNBC Indonesia yang tayang pada 9 Oktober 2026, Dimas menjelaskan bahwa harga komoditas dapat membantu penerimaan ekspor. Manfaat bagi cadangan devisa juga bergantung pada pelaksanaan kebijakan Devisa Hasil Ekspor.
Ia menempatkan penguatan dolar AS dan arah suku bunga sebagai risiko yang perlu dipantau. Perubahan kedua faktor itu dapat memengaruhi selera investor terhadap aset di negara berkembang, termasuk rupiah, tetapi dampaknya tidak dapat dipastikan dari satu faktor saja.
Isu Domestik dan Faktor Eksternal
Isu perombakan kabinet turut muncul dalam pembahasan pasar. Menurut penilaian Dimas dalam wawancara itu, perhatian investor asing lebih banyak tertuju pada stabilitas politik secara keseluruhan daripada spekulasi mengenai satu posisi dalam kabinet.
Karena itu, pandangan narasumber tentang kecilnya dampak langsung reshuffle merupakan penilaian pasar, bukan kepastian arah kurs. Rupiah juga bergerak mengikuti perdagangan harian dan dapat berubah saat ada informasi baru mengenai kebijakan, komoditas, atau kondisi global.
Pelaku pasar dapat membandingkan pergerakan rupiah dengan indeks dolar dan mata uang kawasan pada periode yang sama. Perbandingan tersebut membantu memberi konteks, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan satu penyebab tunggal dari perubahan kurs.
Artikel ini merangkum pandangan Dimas Yusuf dalam wawancara CNBC Indonesia. Nilai tukar dan kondisi pasar dapat berubah setelah wawancara tersebut.















