Sulseltimes.com, Jakarta, Jumat, 09/10/2026 — Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui rupiah masih rentan terhadap aliran modal asing akibat capital flight global.
- Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui rupiah masih rentan akibat capital flight global
- Kapital flight adalah keluarnya dana besar-besaran dari suatu negara ke negara lain
- Investor mencari aset aman seperti dolar, menyebabkan outflow dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia
- Fenomena ini membuat rupiah tertekan dan memicu penjualan surat berharga negara (SBN) oleh investor asing
- Yield SBN naik seiring spread dengan US Treasury mengecil, dengan yield US Treasury mencapai 5,3% dan yield obligasi 10 tahun Indonesia sekitar 7,2%
Alasan di Balik Kerentanan
Kapital flight adalah fenomena keluarnya dana atau arus modal secara besar-besaran dari suatu negara menuju negara lain.
Fenomena ini terjadi ketika investor memutuskan untuk menarik investasinya, lalu mentransfernya ke negara lain yang dianggap lebih aman dan stabil.
Dampak terhadap Rupiah dan Surat Berharga Negara
Aliran modal keluar tersebut membuat rupiah tertekan karena investor asing melepas kepemilikannya di surat berharga negara (SBN), sehingga instrumen tersebut sempat mencatatkan outflow asing cukup besar.
“Ada potensi capital flight global, di mana mereka (investor asing) mencari aset-aset yang sekiranya buat mereka itu relatif aman. Dalam hal ini, orang yang megang dolar mungkin dianggap mereka masih relatif aman, jadi kita mulai melihat banyak capital outflow dari negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia,” kata Destry Damayanti, Gubernur Bank Indonesia, Jumat, 09/10/2026.
Selain rupiah, penjualan asing di SBN juga membuat imbal hasilnya (yield) mengalami kenaikan.
Imbas Spread Imbal Hasil
Yield SBN naik seiring spread dengan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) mengecil. US Treasury yield naik sampai 5,3%, sementara obligasi 10 tahun Indonesia berada di sekitar 7,2%.
Hal ini menyebabkan adanya outflow di negara-negara berkembang, kata Destry.
Status Terkini
Bank Indonesia terus memantau perkembangan capital flight global dan dampaknya terhadap nilai tukar serta pasar obligasi.







