Bisnis

Anak RA Kartini Pilih Hidup Melarat, Tolak Warisan Jabatan Bupati dan Hak Veteran

Avatar of Sulsel Times
0
×

Anak RA Kartini Pilih Hidup Melarat, Tolak Warisan Jabatan Bupati dan Hak Veteran

Sebarkan artikel ini
Anak RA Kartini Pilih Hidup Melarat, Tolak Warisan Jabatan Bupati dan Hak Veteran
Anak RA Kartini Pilih Hidup Melarat, Tolak Warisan Jabatan Bupati dan Hak Veteran
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 22/08/2026 — Anak RA Kartini, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, memilih hidup melarat dan menolak memanfaatkan nama ibunya meski berhak atas jabatan tinggi dan hak veteran.

Ringkasnya…
  • Soesalit anak RA Kartini dan Bupati Rembang
  • Menolak jabatan Bupati dan hak veteran
  • Karier militer puncak Panglima Divisi II Diponegoro 1946
  • Hidup melarat hingga meninggal
  • Prinsip tidak menjual nama orang tua
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Di tengah sorotan gaya hidup mewah sebagian elite, kisah Soesalit menampilkan kontras tajam. Ia lahir dari keluarga pejabat: ayahnya Raden Mas Adipati Ario Djojadiningrat menjabat Bupati Rembang, sedangkan ibunya RA Kartini menjadi tokoh pergerakan perempuan ternama.

Scroll Kebawah
Advertisement

Soesalit sebenarnya berhak menggantikan ayahnya sebagai bupati. Namun, menurut Wardiman Djojonegoro dalam buku Kartini (2024), ia mantap menolak penawaran tersebut meski banyak pihak memintanya menerima jabatan itu.

Menolak Warisan Jabatan Bupati

Sebagai gantinya, Soesalit memilih masuk ke dunia militer pada 1943. Ia dilatih oleh tentara Jepang lalu bergabung ke Pembela Tanah Air (PETA). Setelah kemerdekaan, ia jadi bagian Tentara Keamanan Rakyat dan kariernya berjalan cepat.

Menurut Sitisoemandari Soeroto dalam Kartini: Sebuah Biografi (1979), Soesalit terlibat beberapa pertempuran melawan Belanda yang membuatnya naik pangkat dengan cepat. Puncaknya pada 1946, ia diangkat menjadi Panglima Divisi II Diponegoro yang bertugas menjaga ibukota negara di Yogyakarta.

Karier Militer dan Jabatan Sipil

Ia juga pernah memegang jabatan sipil,其中之一 sebagai penasehat Menteri Pertahanan di Kabinet Ali Sastro pada 1953. Meski posisi dan nama ibunya sangat dikenal publik, Soesalit sengaja tidak mengungkapkan identitasnya sebagai putra Kartini.

Lagu “Ibu Kita Kartini” ciptaan WR Soepratman populer di masanya, namun Soesalit tetap diam. Atasannya, Jenderal Nasution, menjadi saksi bagaimana ia hidup sederhana pasca pensiun.

Kesaksian Nasution soal Kehidupan Melarat

Nasution mencatat Soesalit hidup melarat sebagai veteran dan tidak meminta hak-haknya. Menurut Nasution, dikutip dari Kartini: Sebuah Biografi (1979), Soesalit bisa saja hidup layak dengan mengaku putra tunggal Kartini untuk menarik simpati, namun ia menolak jalan itu.

Prinsip tidak menjual nama orang tua dipegangnya hingga menutup usia. Akibatnya, pria kelahiran Rembang ini tetap hidup dalam keterbatasan ekonomi sampai akhir hayatnya.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *