Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, 04/10/2026 — Presiden B.J. Habibie berhasil menurunkan nilai tukar dolar ke level Rp6.550 pada awal 1999, mengakhiri krisis moneter yang sempat membuat dolar menyentuh Rp16.800.
- Dolar turun ke level Rp6.550 di era Habibie, turun dari rekor Rp16.800
- Kebijakan restrukturisasi perbankan: empat bank pemerintah digabung jadi Bank Mandiri, BI dipisahkan via UU No.23/1999
- Harga SBI tinggi, suku bunga turun dari 60% menjadi puluhan persen
- Subsidi listrik dan BBM tidak dinaikkan, harga bahan pokok tetap terjangkau
- Habibie menganjurkan puasa Senin-Kamis untuk hemat energi, menurut A. Makmur Makka
Presiden B.J. Habibie berhasil menurunkan nilai tukar dolar ke level Rp6.550 pada awal 1999, mengakhiri krisis moneter yang sempat membuat dolar menyentuh Rp16.800.
Cara Presiden BJ Habibie Menstabilkan Nilai Tukar Dolar
Restrukturisasi perbankan dilakukan segera setelah Habibie menjabat. Pemerintah menggabungkan empat bank milik negara menjadi Bank Mandiri dan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 yang memisahkan Bank Indonesia dari pemerintah, sehingga BI bisa bertindak independen.
Kebijakan moneter ketat diterapkan melalui penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan bunga tinggi. Langkah ini menurunkan suku bunga dari 60% menjadi puluhan persen dan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan.
Pengendalian harga bahan pokok menjadi fokus. Harga listrik dan bahan bakar minyak bersubsidi tidak dinaikkan, sehingga harga kebutuhan pokok tetap terjangkau.
Di tengah krisis, Habibie pernah mengeluarkan pernyataan kontroversial. Ia menganjurkan rakyat berpuasa Senin-Kamis untuk menghemat energi saat krisis, menurut A. Makmur Makka dalam buku biografi Inspirasi Habibie (2020), Minggu, 04/10/2026.









