Sulseltimes.com, Jakarta, Rabu, 19/08/2026 — Rupiah membuka menguat ke level Rp17.830 per dolar AS di perdagangan pagi ini menjelang pengumuman keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
- Rupiah menguat 0,11% ke Rp17.830/US$
- Penguatan membalikkan pelemahan kemarin
- Bank Indonesia
- Rabu 19/08/2026 Jakarta
- Menjelang keputusan BI Rate dan ekspektasi The Fed
Menurut data Refinitiv, nilai tukar rupiah terapresiasi 0,11% pada pembukaan perdagangan hari ini. Posisi ini membalikkan tekanan pada penutupan Selasa lalu ketika mata uang Garuda melemah 0,17% ke Rp17.850 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat menguat tipis 0,03% ke posisi 99,688. Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi penantian pasar terhadap keputusan BI serta dinamika ekspektasi suku bunga The Federal Reserve.
Keputusan BI Rate Jadi Fokus Utama
Bank Indonesia memasuki hari kedua Rapat Dewan Gubernur periode 18-19 Agustus 2026. Keputusan mengenai BI Rate akan diumumkan pada Rabu hari ini. Hasil polling CNBC Indonesia terhadap 14 institusi dan lembaga menunjukkan seluruh responden memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Tidak ada responden yang memproyeksikan kenaikan atau penurunan suku bunga pada bulan ini.
Jika proyeksi tersebut terwujud, Bank Indonesia akan menahan suku bunga dalam dua pertemuan beruntun. Bank sentral sebelumnya juga mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% pada RDG Juli 2026. Keputusan tersebut akan memperpanjang jeda setelah BI menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang Mei-Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%. Kenaikan saat itu ditempuh untuk meredam tekanan terhadap rupiah dan menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran.
Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati pandangan BI mengenai stabilitas rupiah, kondisi ekonomi domestik, likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.
Dinamika Eksternal dan Risiko Geopolitik
Dari sisi eksternal, dolar AS masih bergerak terbatas karena pelaku pasar semakin memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Rangkaian data ekonomi AS menunjukkan kondisi yang lebih lemah, mulai dari hilangnya lapangan kerja pada Juli hingga inflasi yang relatif terkendali. Kondisi tersebut membuat pasar memperhitungkan peluang hampir 70% bahwa The Fed akan menahan suku bunga bulan depan.
Meski demikian, dolar masih mendapat dukungan dari kekhawatiran mengenai berlanjutnya konflik AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz. Ketegangan tersebut kembali memunculkan risiko kenaikan harga energi dan inflasi serta mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak lebih tinggi.















