Sulseltimes.com, Jakarta, Rabu, 24/06/2026 — Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menargetkan jumlah penduduk yang belum memiliki rekening bank (unbanked) turun menjadi 13 juta orang pada tahun ini. Target tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh warga Indonesia memiliki akses perbankan dalam tiga tahun.
- Target unbanked 2026 turun jadi 13 juta orang
- Penurunan dari 49,7 juta jiwa pada 2025
- Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu
- Jakarta, Rabu 24 Juni 2026
- Unbanked usia produktif 15-69 tahun tersisa 15,3 juta jiwa
Penurunan Jumlah Penduduk Unbanked
Berdasarkan data LPS, jumlah masyarakat tanpa rekening bank terus menurun dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2023 terdapat 59,8 juta orang unbanked, turun menjadi 53,2 juta orang pada 2024, dan kembali turun menjadi 49,7 juta orang pada 2025.
Penurunan terbesar terjadi pada kelompok usia produktif 15-69 tahun.
Jumlahnya menyusut dari 23,5 juta orang pada 2023 menjadi 18,2 juta orang pada 2024, lalu turun lagi menjadi 15,3 juta orang pada 2025.
Strategi dan Target Tahunan
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyatakan setiap tahun LPS menargetkan pengurangan 2 juta unbanked.
“Setiap tahun kami punya target untuk mengurangi yang namanya unbanked, penduduk yang tidak memiliki rekening. Sekarang 15 juta yang usia produktif. Setiap tahun target kami adalah mengurangi 2 juta unbanked. Jadi tahun ini nanti akan kita ukur akhir tahun harusnya turun menjadi 13 juta yang tidak punya rekening,” kata Anggito dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu, 24/06/2026.
Target tersebut sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta seluruh masyarakat Indonesia dapat mengakses jasa keuangan bank.
“Bapak Presiden pernah memberikan arahan pada kami dalam waktu 3 tahun harus semua penduduk Indonesia sudah mulai memiliki rekening. Jadi kami targetnya itu,” tegas Anggito.
Upaya Melalui Financial Festival
Salah satu upaya menurunkan angka unbanked adalah dengan menyelenggarakan festival keuangan atau Financial Festival di Yogyakarta.
Acara tersebut digelar bersama institusi dan lembaga keuangan lainnya yang memiliki tujuan yang sama.
Pengunjung yang datang mencapai lebih dari 11 ribu orang, didominasi pelajar SMA dan mahasiswa.
Pimpinan Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengapresiasi penyelenggaraan Financial Festival 2026.
“Kalau diperbolehkan memberikan pandangan pribadi saya terhadap Jogja Financial Festival saya memberikan apresiasi. Saya melihat Jogja ini adalah kota yang sangat inklusif,” ungkapnya, Rabu, 24/06/2026.
Kondisi Keuangan di DIY dan Wilayah Lain
Berdasarkan data LPS, sektor keuangan di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2025 menunjukkan sejumlah dinamika.
Proporsi penabung dengan saldo di bawah Rp100 juta menurun 2%, sementara jumlah penabung dengan saldo di atas Rp5 miliar meningkat 3%.
Pertumbuhan kredit masih relatif rendah di level 6,14% dengan rasio loan to deposit ratio sebesar 65%.
DIY juga mencatat surplus dana perbankan Rp31,4 triliun, namun sekitar 20% rekening masih berstatus tidak aktif.
Sekitar 16% penduduk usia produktif 15-70 tahun di daerah tersebut belum memiliki akses terhadap layanan perbankan.
Secara wilayah, persentase penduduk unbanked tertinggi berada di Kalimantan sebesar 24,67% dari total penduduk.
Disusul wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) sebesar 22,83%.
Jawa mencatat persentase 19,21%, Sumatera 18,27%, dan Bali-Nusa Tenggara menjadi wilayah dengan tingkat unbanked terendah yakni 13,27%.
Rekening Tidak Aktif Meningkat
Di sisi lain, jumlah rekening tidak aktif secara nasional justru terus meningkat.
Pada 2023 tercatat 144,09 juta rekening tidak aktif, naik menjadi 158,77 juta rekening pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 173,42 juta rekening pada 2025.
Pertumbuhan tahunan rekening tidak aktif mencapai 9,52% pada 2023, meningkat menjadi 10,18% pada 2024, sebelum melambat menjadi 9,23% pada 2025.
LPS mendefinisikan rekening tidak aktif sebagai rekening simpanan bank umum non-digital dengan saldo maksimal Rp50.000 dan tidak mengalami perubahan nilai sepanjang tahun.







